Karma Siapa?

0
75
Ilustrasi: pixabay

Wenny Yulia Miarsi

Kalau ada kisah perselingkuhan yang viral di media, hampir semua komen netizen menyalahkan WIL (wanita idaman lain). Hanya sebagian kecil saja yang mencoba menelisik sebab sang suami berpaling. Dan itu pun masih diserang dengan alasan “hanya mencari pembenaran”.

Banyak yang berharap si suami kembali pada istri sah dan meninggalkan WIL-nya. Tapi harapan ini pun tak luput dari iringan kutukan KARMA untuk si WIL.

Ironisnya, sebenarnya tidak akan ada istilah WIL kalau si suami tidak pernah lengket pada WIL-nya. Jadi secara logika si suami harusnya juga mendapat KARMA.

Kalau si suami dan WIL-nya cuma suka sesaat, jalan bareng sesaat, kangen-kangenan sesaat, keinginan suami untuk memperbaiki hubungan dengan istrinya, tidak akan menimbulkan masalah baru.

Tapi kalau hubungan sudah sangat jauh bahkan si suami telah menodai WIL-nya¬†maka akan ada konsekuensi besar yang harus diterima, bila si suami menghindar dari tanggung jawab atas perbuatannya itu. Terlebih kalau dia pernah berucap “berani bertanggung jawab” pada si WIL.

Kalau kasusnya seperti ini, siapa yang sebenarnya berhak atas KARMA?

Perasaan tak berharga karena telah dinodai dan dipermainkan akibat terjerat godaan dan rayuan sampai dia jatuh cinta pada si suami, mungkin adalah KARMA dan nestapa yang harus dirasakan oleh si WIL.

Dan KARMA untuk si suami yang sudah menodai si WIL lalu lari dan mengingkari perbuatan dan ucapannya, hanya Tuhan yg tau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here