Kartini Abad Millenium Perjuangkan Literasi di Pelosok Negeri

0
77

Berbicara tentang literasi di negeri ini, boleh dibilang negeri kita memang miskin literasi. Itu kenapa, negara kita termasuk dalam daftar negara dengan minat literasi terendah dibandingkan negara-negara lain di dunia ini.

Minat baca masyarakat kita, memang memprihatinkan. Kemudahan teknologi seperti internet pun, lebih sering dimanfaatkan untuk media sosial sekedar haha hihi dengan yang lain, bukan untuk membuka banyaknya situs-situs yang menawarkan bahan bacaan secara gratis maupun berbayar.

Di sisi lain, kemudahan untuk mendapatkan buku di toko-toko buku yang sekarang tersebar di mana saja, pun masih sedikit peminatnya. Tak jarang, pameran buku atau bazaar murah, hanya ramai pengunjung saja, tapi pembeli serta pembaca bukunya, tak sebanding dengan jumlah pengunjung yang datang.

Rendahnya minat literasi, itu mungkin juga yang menjadi penyebab, akan banyaknya masyarakat kita yang masih buta aksara. Tercatat di data BPS, per tahun 2017, masih ada 2,07% masyarakat kita yang buta aksara. Atau sekitar 3,4 juta penduduk negara ini, masih buta aksara. Dan dari 3,4 juta tersebut, tercatat ada 1.157.703 laki-laki, serta 2.258.990 perempuan, dari total keseluruhan warga buta aksara.

Sebuah perbedaan angka yang cukup mencengangkan, antara kaum laki-laki dan perempuan yang buta aksara.

Dan dari total 3,4 juta penderita buta aksara tersebut, tersebar di 11 propinsi di negeri ini. Sebanyak 28,75% adalah warga Papua, 7,91% adalah warga NTB, 5,51% warga NTT, 4,58% warga Sulawesi Barat, 4,49 warga Sulawesi Selatan, 2,74% warga Sulawesi Tenggara, 4,50 % warga Kalimantan Barat, 2,90% warga Kalimantan Utara, 3,57% warga Bali, 3,47% warga Jawa Timur, serta 2,20% adalah warga Jawa Tengah.

Bisa dilihat dari angka tersebut di atas, Papua menjadi PR besar bagi yang namanya literasi. Masih banyak mama-mama Papua, serta perempuan-perempuan Papua, yang tak mengenal baca tulis, apalagi mengenal buku-buku.

Berbicara tentang literasi di Papua, rasa-rasanya nama Risna Hasanuddin, memang layak menjadi contoh serta rujukan, tentang bagaimana ia berjuang mengenalkan literasi pada para perempuan Papua, terutama para perempuan suku Arfak, desa Korbey, Manokwari, Papua Barat.

Perempuan yang lahir di Banda Neira ini, rela menghabiskan banyak waktu berada di antara para perempuan di desa Korbey. Ia bahkan mendirikan Rumah Cerdas Perempuan Arfak Papua Barat. Rumah yang ia kelola bukan hanya sebagai perpustakaan saja, namun juga sebagai tempat belajar-mengajar. Alhasil rumah itu selalu penuh dengan anak-anak kecil, serta perempuan suku Arfak yang mau belajar serta membaca.

Perjuangan perempuan peraih SIA ( Satu Indonesia Astra) Awards kategori pendidikan ini, memang tak mengenal kata menyerah. Awal ia datang ke desa Korbey, hanya ada satu-dua perempuan, yang tahu baca tulis, pun terbatas hanya tentang transaksi dagang, lain dari itu, mereka bisa dibilang buta sama sekali.

Risna Hasanuddin di tengah, para peraih penghargaan Satu Indonesia Astra Awards
foto: dok. Maragaretha Diana

Atas perjuangan Risna, para perempuan suku Arfak, tak hanya mengenal baca tulis, namun juga mereka diajari, bagaimana mengelola sampah dengan bank sampah, mengelola transaksi dagang jual beli noken dan lain sebagainya.

Risna Hasanuddin, adalah satu contoh perempuan, yang mau berjibaku dengan keterbatasan, demi bisa berguna bagi bangsa dan negara. Seolah menggenapi figur seorang Kartini masa kini, yang erat dengan literasi. Dengan setumpuk buku yang tak seberapa, ia bisa membuka banyak mata untuk bisa membaca, melihat dunia dari berbagai cerita serta warna.

Karena seperti kata pepatah, buku adalah jendela dunia…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here