Kasus Bayi Calista, Mungkinkah Ibunya Idap Depresi Pasca Melahirkan?

0
207
pixabay

Kasus Calista, bayi berusia 15 bulan yang akhirnya harus meregang nyawa setelah diduga dianiaya ibu kandungnya sendiri yang viral akhir-akhir ini memang sangat memilukan. Berbagai hujatan terus tertuju pada Sinta (27), ibu kandung Calista yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka dan kasusnya masih terus ditangani oleh Polres Karawang.

Tanpa bermaksud membenarkan apa yang telah dilakukan oleh Shinta, kasus ini entah mengapa membuat saya teringat dengan istilah Baby Blues Syndrome dan Postpartum Depression (PPD). Baby Blues Syndrome adalah gangguan psikologis berupa sedih, cemas, dan emosi meningkat yang dialami sekitar 50- 80% wanita setelah melahirkan khususnya bayi pertama. Syndrome yang umumnya terjadi di dua minggu pertama pascamelahirkan ini menyebabkan penderitanya jadi mudah kesal, sering menangis tanpa sebab yang jelas, tidak sabaran, enggan memperhatikan bayi, mudah tersinggung, dan sederet emosi yang cenderung negatif lainnya.

Sementara PPD, meski sekilas terasa mirip dengan baby blues, namun frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejala-gejala tersebut di atas sama sekali berbeda. Pada PPD, penderita akan merasakan berbagai gejala tersebut dengan lebih sering, lebih hebat, serta lebih lama. PPD bahkan bisa berlangsung hingga lebih dari setahun usai melahirkan. Pada kasus PPD akut, si ibu bisa saja melakukan tindakan bunuh diri atau menyakiti bayinya sedemikian rupa.

Saya tidak tahu, apakah Sinta, ibunda Calista ini mengidap PPD atau tidak. Namun melihat latar belakang Sinta yang seorang single parent dan mengalami kesulitan ekonomi, jelas ada faktor ketidakstabilan psikis di sini. Terlepas dari apapun yang terjadi di masa lalunya, Sinta berada di kondisi mental dan lingkungan yang membuatnya memang tidak siap untuk memiliki -apalagi membesarkan- seorang anak.

Dalam kondisi lingkungan dan keluarga normal saja, ibu mana pun bisa berpotensi terkena syndrome baby blues dan PPD. Selain dipicu oleh faktor-faktor yang sifatnya kejiwaan, perubahan hormon turut mempengaruhi kestabilan emosi. Selama hamil hormon (estrogen dan progresteron) akan mengalami peningkatan. Hormon-hormon ini akan menurun tajam dalam tempo 72 jam setelah melahirkan. “Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau kondisi hormon yang sudah stabil selama 9 bulan mendadak berubah drastis,” kata dr. Arju Anita SpOG dari RSIA Hermina, seperti yang dikutip dari theasianparent.id .

Dalam fase ini, setegar apapun perempuan bisa menjadi sangat rapuh. Selain harus mendapat penanganan medis dan terapi psikologis, pemulihannya jelas tak akan sempurna jika tanpa dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat.

Sementara Sinta, jangankan mendapat dukungan suami dan keluarga, saat kasus ini mencuat saja diketahui perempuan ini tinggal bersama seorang pria yang belum ada hubungan ikatan resmi dengannya. Siapa ayah kandung Calista pun masih menjadi misteri hingga saat ini.

Kesalahan, hujatan, makian, atas kematian si malaikat mungil Calista hanya tertuju pada Sinta seorang. Namun adakah yang mempertanyakan pertanggungjawaban dari sosok sang ayah?

Sekali lagi, penulis tidak bermaksud membela maupun membenarkan apapun yang telah terlanjur dilakukan Sinta. Tindak kekerasan apapun, apalagi sampai berakibat menghilangkan nyawa seorang bayi tak bersalah tentu saja tidak bisa dianggap benar sampai kapanpun.

Hanya saja, saya berharap warganet tak terlalu berlebihan menghakimi Sinta. Selama ini dia sudah sangat tersiksa oleh depresinya. Saat ini dia juga pasti makin tersiksa oleh kenyataan bahwa Calista tidak mungkin lagi kembali dalam peluknya.

Biarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Jagalah hati agar jangan sampai kebencian berlebihan membutakan nurani kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here