Kisah Nyata: Move On dari Stroke dan Badai Kehidupan Menuju Bahagia

0
98
Christie Damayanti, penyandang disabilitas, insan pasca stroke, arsitek, planolog, filatelis, penulis. Foto: dok. Christie Damayanti.

Christie Damayanti

Move On = Peluang?

Berhubung tadi aku ngantuk banget, pas pulang betulin kacamata ibu dan sempat aku jatuh di kamarku, jam 15 aku bobo.

Tapi, jam 23 aku bangun dan dan ga bisa bobo lagi, deh.

Terus, kubaca timeline teman-temanku, dan ada 1 topik menarik dari banyak teman, dengan 1 kata: MOVE ON.

….

Tigabelas tahun lalu, tahun 2007, aku cerai. Tahun pertama, aku nangis-nangis terus sampai suatu saat, “Tolol banget aku! Aku nangis-nangis ga karuan tapi dia udah ketawa-ketawa ga karuan! Move on, Christieee…!

Abis itu, ya udah, aku keranjingan kerja. Aku memang selalu bekerja sejak lulus S1, dan menjadi addict serta workholic sejak perceraianku. Kerja keras membantu melupakan sisi-sisi pahit hidupku.

Aku keranjingan kerja sampai terserang stroke tahun 2010.

Dokter memvonis aku tidak bisa kembali normal. Seluruh tubuh tidak bisa bergerak atau lumpuh, tidak bisa bicara, membaca, bahkan tidak mampu menelan makanan. Dokter menyatakan bahwa 20 persen otak kiri terendam darah karena ada pembuluh darah yang pecah. Tapi aku bertekad harus pulih dan bisa kembali bekerja. Terapi demi terapi aku jalani seoptimal mungkin, untuk bisa kembali sepulih-pulihnya.

Sampai saat ini, hampir seluruh tubuhku bisa pulih kecuali bagian kanan tubuhku, tetap tak bisa digerakkan.

Kalian pikir aku ga berat menjalaninya?

Berat banget, tauuu….

Apalagi, aku harus bekerja untuk membiayai hidupku dan sekolah 2 anakku, karena tidak ada dana dari mantanku.

Aku tetap kerja sampai 2 anakku kini bisa mandiri dan aku tetap ‘move on’….

Beberapa ‘move on’-ku terus antri setelah ‘move on’-ku terbesar, yaitu perceraian. Dan itu semakin membuat aku tetap tegar.

‘Move on’ – move on-ku merupakan tantanganku. Itu juga menjadi PELUANGKU untuk belajar terus kuat.

Sooo…,

Aku membutuhkan ‘move on’ – ‘move on’-ku berikutnya.

Sampai saatnya, aku terdampar sekarang ini, sendirian tetapi berbahagia….

Ya, sendirian lah yaouuu….

Kedua anakku sudah mandiri. Satu di Jakarta, S1 dan kerja di Kalbe Farma sebagai designer. Semakin mantap dan masa depannya cerah ceria…. Satu lagi di Tokyo, kuliah sambil kerja di hotel dan segera akan menjadi model internasional. Dunia adalah masa depannya….

Aku? Hihihi…, cuma seorang perempuan cacat dan berdiri agak jauh dan melihat anak-anaknya terbang tinggi meraih impiannya.

Move on, adalah kata-kata yang ampuh untukku, untuk meraih peluangku di sisa hidupku. Walau aku terus ‘move on’ dengan semua langkah hidupku, tapi mimpi-mimpiku terus berkecambah.

Kedua anakku ‘lepas’, tetapi aku mendapat banyak mimpi dan peluang-peluangku pun terus bertambah.

Rencana-rencanaku membludak di otakku, dan terus kubuat list mimpi-mimpiku untuk kubuat realisasi….

Ga percaya?

Tunggu gebrakkan-gebrakanku selanjutnya!

Sepuluh tahun lalu aku terserang stroke, aku terus menggebrak dengan merealisasikan ‘move on’-ku, sejak 2010 sampai sekarang, dan entah sampai kapan.

Dan sampai ujung nafasku, aku akan terus ‘move on’, terus dan terus, sampai aku ‘pulang’ ke rumah Bapaku.

Meninggalkan karya dan hasil dari keputusanku untuk selalu dan terus ‘move on’ di setiap titik langkah hidupku yang ‘pahit’….

Move on?

HARUS-lah yaouuu.

Dan, aku sekarang sungguh berbahagia dengan apa yang kulakukan untuk ‘move on’ setiap saat….

Catatan :
Ini hasil perenunganku terhadap kotbah GKI Jatinegara pagi ini, 26 Januari 2020 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here