Luar Batang dan Luka di Sudut Hati

0
69
Foto: dok. Cindita Ginting

Cindita Ginting

Bocah itu tersenyum malu-malu. Baju koko yang dikenakannya tersetrika rapi sekalipun warnanya tak lagi cerah. Teman kecil bertubuh ringkih disebelahnya menatap saya lekat, binar kegirangan di matanya membuat saya ingin menangis.

Dua ratusan anak-anak Panti Asuhan telah menunggu kami, duduk beralas karpet sederhana di Aula Kompleks Masjid Luar Batang pagi itu, Minggu, 13 Mei 2018. Suasana penuh senyum.

Di saat yang sama aroma amis darah dan jerit tangis pilu tentu masih pekat di beberapa tempat di Surabaya.

Saat kedua orang tua saya yang sudah sepuh memutuskan untuk tetap menghadiri kebaktian Minggu di gereja, hanya sekitar dua kilometer jaraknya dari salah satu lokasi ledakan bom maut perenggut nyawa mahluk-mahluk Tuhan, yang entah apa kesalahannya sehingga ada manusia lain (jika masih pantas disebut manusia) merasa punya hak menjadi algojo sesama.

Sempat terlintas dalam pikiran saya untuk batal hadir, akan tetapi suara Ibu saya yang terdengar tegar di ujung telepon membuat saya menguatkan langkah dan memutuskan tetap mengikuti acara silaturahmi yang sudah kami susun jauh-jauh hari. Kunjungan yang kami persiapkan dengan penuh cinta.

Goody bags warna-warni kami isi dengan aneka makanan kesukaan anak-anak. Makan siang kami nasi putih pulen ala Jepang disantap dengan sumpit. Ada juga buku dan seorang sahabat bahkan membuat sendiri amplop angpau berwarna hijau, semua mengingatkan saya pada sepotong sajak Kahlil Gibran, “seperti menenun kain dan membayangkan kekasih kami yang akan memakainya…”

Persiapan penuh semangat dan kegembiraan, dalam suasana bathin yang jauh berbeda dari kunjungan sebelumnya.

Hingga berita duka datang, tepat pada hari H saat saya sedang dalam kendaraan menuju titik kumpul di Sekolah Santa Ursula, di Jl. Pos. Saya menyadari kemudian bahwa canda kami tak sehangat biasa, beberapa wajah sulit menyembunyikan kesedihannya. Tak ada percakapan panjang, kecuali pertanyaan apakah ada keluarga di Surabaya dan adakah mereka baik-baik saja?

Masih lekat dalam ingatan saya kunjungan pertama kami pada pertengahan Januari 2017. Saya diliputi rasa was-was. Ada perasaan senang, karena Panti Asuhan Luar Batang membuka pintunya bagi kami. Tapi kekhawatiran, bahkan rasa takut akan terjadinya hal-hal tak terduga sulit saya tepis. Karena di luar sana, hanya berbatas dinding bangunan Aula Kompleks Masjid Luar Batang tempat kami bersilaturahmi, suhu politik menjelang Pilkada DKI nyaris mencapai titik didih dan Kampung Nelayan Luar Batang terseret di pusarannya.

Lalu mengapa datang ke sini?

Karena kami yakin, uluran kasih akan bersambut kasih juga. Karena sekalipun terdengar klise, kami mengamini bahwa kami bersaudara dalam kemanusiaan. Karena setiap insan diberiNya kelebihan dan kekurangan dan kelebihan yang satu akan mencukupkan yang lain.

Suara gendang yang ditabuh ritmis menyadarkan saya. Marawis melantunkan puji-pujian pada Sang Khalik, anak-anak panti menyajikannya dengan riang. Saya merasakan suka cita, energi positif itu menular cepat.

Acara dilanjutkan dengan permainan dan perlombaan. Cah bagus bertubuh ringkih tadi tertawa terkekeh saat seorang temannya berlari melesat maju ke depan untuk menjawab pertanyaan tapi kemudian diam terpaku, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun karena gugup. Anak-anak memang selalu punya alasan untuk tertawa, bagaimanapun kondisinya.

Tawa terkekeh dan binar mata itu kembali mengusik hati saya, muncul begitu lepas dari seorang anak laki-laki kecil yang tidak pernah mengenal ayahnya, karena sang tiang keluarga pergi saat melaut, meninggalkan buah kasih dalam rahim ibunda.

Tidak ada yang kebetulan di bawah langit. Bisa jadi Ia menitipkan anak-anak itu pada kita.

Bisa jadi sorot mata serupa oase yang mendinginkan hati adalah cara Tuhan menyadarkan. Akan selalu ada luka di sudut hati, tak terjangkau oleh tangan kita untuk membalutnya, lalu dibawaNya kita ke tempat dimana luka menganga lebih perih….

Masih seperti setahun lalu, jalan tak rata, berlubang dan tak beraspal, peminta-minta menadahkan tangan dan sekelompok anak kecil merengek minta dikasihani mengantar kami meninggalkan Luar Batang. Matahari garang tepat di atas kepala, angin kering menghamburkan debu kotor ke udara.

Seorang anak perempuan di pinggir jalan tergesa memindahkan goody bag merah dari pergelangan tangan kanannya ke tangan kiri, kemudian memberi lambaian hangat. Saya membalasnya. Kami akan datang lagi anak manis, kami pasti datang lagi.

Betapa anak-anak ini membutuhkan kita. Setetes keringat kita akan melembutkan tanahnya dan bibit-bibit harapan akan tumbuh.

Harapan yang akan menuntun kaki-kaki kecil mereka melangkah meraih hari depan dengan kepala tegak.

(Cindita Ginting, 27 Mei 2018)

Salam takzim buat teman-teman luar biasa di kelompok WAG RI 1, Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia dan Alumni Santa Ursula. Berkah Dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here