Memanipulasi Data, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Menyampaikan Data itu dengan Suara (yang katanya) Bergetar

0
2564

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bikin blunder lagi, mengadakan konfrensi pers yang bikin heboh seluruh Indonesia. Namun, nyaris seminggu sudah konfrensi pers  yang ‘Menghebohkan’ itu berlalu, hingga hari ini,  masih saja banyak orang yang membahasnya. Saya jadi bertanya-tanya, apa maksud di balik semua ini?

Jujur, saya sih tidak melihat siaran konfrensi pers itu di televisi, karena saya bukan tipe orang yang suka nonton berita, sekedarnya saja. Kalau pun saya menyalakan televisi di pagi hari dan acaranya berita, itu semata-mata hanya untuk menemani saya melakukan rutinitas pagi saya melantai, alias nyampu dan ngepel lantai. Namun dari berita-berita yang banyak beredar di media, bahwa apa yang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sampaikan dalam konfrensi persnya di Balaikota itu, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Hingga Senin (30/3) di DKI Jakarta yang meninggal karena wabah Covid-19 berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak 76 orang, tapi kenapa beliau menyebut hingga 283. Data itu diambil dari mana, benar-benar tidak jelas.

Data terakhir yang saya dapat dari situs www.covid19.go.id pagi tadi, secara nasional, terdapat 1.790 kasus yang terdiri dari 1.508 orang dirawat, 170 orang meninggal dunia dan 112 orang dinyatakan sembuh.

Saya jadi berpikir,  jika memang benar data orang yang meninggal dalam wabah pandemi Covid-19 saja di markup atau dimanipulasi, bagaimana dengan data-data yang lainnya? Sudah menjadi rahasia umum jika beliau sering melakukan hal itu, saya tak perlu menyebutkan satu persatu, karana saya yakin, para pembaca pasti sudah mengetahuinya.

Sampai di sini, kehebohan masih terus terjadi, banyak pertanyaan lain yang mucul dari netizen soal mana yang benar, Gubernur DKI kah atau Pemerintah pusat kah? Tapi saya tidak ingin membahasnya lebih jauh, karena bukan kapasitas saya.

Terlepas dari benar atau tidaknya data yang beliau sampaikan, menurut saya, tidak seharusnya beliau terlalu melangkahi tugas Pemerintah Pusat, karena akan membuat rancu dan membingungkan masyarakat. Kemudian pertanyaan lain muncul, apakah orang yang meninggal karena penyakit lain atau karena hal- hal lain, misalnya seperti kecelakaan haruskah dimakamkan seperti standar mereka yang meninggal karena virus Covid-19? Buat saya yang awam sih seharusnya tidak, mereka yang meninggal bukan karena terkena virus Covid-19, diperlakukan sebagaimana jenazah biasa.

Sekarang tugas kita sebagai masyarakat adalah, jangan termakan oleh berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Ikuti imbauan pemerintah untuk di rumah saja jika tidak ada keperluan yang mendesak dan tetap menjaga kesehatan kita masing-masing. Semoga Tuhan segera menyudahi wabah ini.

• RINA •

Seseorang yang doyan makan tapi bisa masak. Suka baca dan sedang belajar jadi penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here