Mengambil Hikmah dari 2 Kali Kehilangan Janin

0
220
pixabay

Dalam diam seseorang punya pertarungannya sendiri.

Sebutlah namanya Isha, seorang wanita taat beragama, lemah lembut, selalu ramah dan ringan tangan. Sejak dulu Isha memang terkenal paling tenang di antara kami, saya dan teman-teman. Sangat kontras dengan kepolosannya terhadap carut marut wajah dunia. Isha bak perawan suci yang jarang berbuat dosa.

Saya mengucapkan duka setelah setahun kami tak bertatap muka. Saat saya hamil, janin Isha pun terpaksa dikuret, untuk kedua kalinya. Padahal saya tahu betul Isha sudah mendambakan anak sekian tahun pernikahannya. Usianya pun masih muda, hanya terpaut setahun di atas saya. Pola hidupnya cenderung sehat, sehari-hari Isha kerap membawa bekal ke kantornya. Ah, siapa yang tahu skenario Tuhan.

Saya perhatikan Isha kini tegar bagai batu karang. Badannya yang dahulu selalu ringkih semasa hamil muda, kini tampak lebih padat dan berisi. Wajahnya dulu acapkali terlihat lelah kini jauh lebih cerah. Tersirat Isha jauh lebih bahagia. Syukurlah kehilangan anak tidak membuat ia dan suaminya tertekan lebih lama.

“Aku sudah cerai sama Toni, Dian. Kamu belum tahu? Seminggu setelah aku kuret, Toni ceraikan aku.”

Padahal bagi keyakinan Isha dan suaminya, perceraian jelas sangat dilarang. Jikalau Negara akhirnya melegalkan perceraian tersebut, para ahli agama tidak akan mengakuinya. Dengan perasaan tak karuan, saya beranikan diri bertanya.

“Tapi aku jauh bersyukur Dian sekarang. Kata cerai tidak keluar dari mulutku.” Katanya tenang. Sebuah senyum getir tersimpul dari bibirnya yang tipis. Isha menggenggam tanganku. Lalu bercerita kejadian demi kejadian menyakitkan selama jelang 4 tahun pernikahannya. Selama ini, Isha menyimpan luka kelam dalam rumah tangganya.

Cobaan apalagi yang tengah ia dera?

Isha membetulkan letak kacamatanya, sejak menikah kulihat memang ia lebih pendiam dibandingkan sebelumnya, karena kesibukkan akan pekerjaan, saya duga. Kenyataannya tiap malam Isha kerap menangis. Ratusan malam ia lalui tanpa pelukan hangat dari sang suami. Kebetulan saya mengenal suami Isha, tak terlalu akrab, hanya sekadar menyapa. Sejak Isha berpacaran dengan suaminya pun, Isha kerap terdengar ragu.

Mulanya saya tak habis pikir, bagaimana tega suami mendapati istrinya kehilangan calon janin dua kali, diceraikannya pula? Emosi itu sempat saya tahan, takkala Isha membuka satu per satu tabir kelam hidupnya.

Isha tak pernah mendapatkan perlakuan menyenangkan kala berhubungan suami istri. Suaminya seolah tak peduli Isha sudah mendapatkan kenyamanan atau belum. Baginya hal itu adalah sebuah ritual untuk memperoleh keturunan, bukan sebuah simbol penyatuan kasih sayang kedua insan.

Dulunya saat pacaran, Isha tak pernah sekalipun disentuh mesra apalagi penuh napsu. Toni berkilah hal ini menjaga kesucian hubungan mereka. Bagi Isha hal itu adalah hal paling mengagumkan yang pernah ia dengar dari seorang pria.

Masih terkejut atas cerita itu, Isha melanjutkan bahwa setelah berhubungan pun, suaminya tak pernah memeluknya, tak pernah menunjukkan kasihnya. Bahkan memilih asyik dengan ponselnya sendiri. Dan ketika Isha mencoba membuka ponsel milik suami, pria itu akan geram dan marah bukan kepalang. Seolah ada rahasia besar yang ingin ia tutup rapat-rapat. Bertahun-tahun Isha mengikuti aturan yang diterapkan suaminya. Hingga ia pernah menganggap rendah dirinya sendiri, karena kerap merasa mengemis kasih sayang dan perhatian dari pria yang secara hukum dan agama adalah sah suaminya sendiri.

Impian Isha akan pernikahan yang bahagia, hangat dan penuh cinta perlahan ia pupuskan. Hebatnya Isha tak putus asa berdoa dan terus berdoa. Hingga suatu saat ketika suaminya tertidur dengan ponselnya, Isha mendapat bisikan untuk membuka dan mengeceknya. Hal yang ia selalu hindari bertahun-tahun lamanya, karena tak ingin membuat suaminya kecewa.

Bulir demi bulir airmata jatuh membasahi pipi lembut Isha, perempuan yang kerap meminta kepada Sang Kuasa. Seolah memang waktu yang tepat bagi Isha mengetahui kebenarannya. Jika sebelumnya Isha membantah dugaan saya akan adanya wanita lain, ternyata pria lain yang ada dalam hati suaminya selama ini. Terjawab sudah semua tingkah laku tak lazim yang kerap diterima Isha selama berhubungan dengan suaminya. Dari mulai cahaya yang dihilangkan sampai gelap gulita, rangsangan demi rangsangan yang diberikan Isha tak berhasil jua membuat suaminya bergairah, sikap kasar yang ia kerap terima kala berhubungan, tak pernah ada sentuhan atau pelukan mesra selama menikah. Dan semua tabir itu akhirnya terbuka karena Isha tak pernah berpikiran buruk pada pasangan yang amat dicintainya ini.

Saya menghela napas berat, menguatkan genggaman tangan Isha. Tak kuasa membayangkan berada dalam posisinya, kisah yang biasa hanya ada dalam cerita pun, harus dialami oleh rekan saya sendiri. Di akhir cerita Isha memaparkan betapa ia sangat bersyukur Tuhan tidak jadi memberikannya keturunan dari suaminya. Ia semula meratapi dan mencari dimana letak kesalahan atas kesuburannya, kini banyak bersyukur dan menyadari hikmah di balik semua kisah.

Kini Isha terlihat lebih bahagia, ia mulai kembali menata hidupnya. Keceriaannya kembali seperti dulu kala saya mengenalnya enam tahun lalu. Tidak ada yang berubah dari sikap baiknya, hanya ketegarannya terus terbentuk seiring waktu.

Kisah ini saya tuliskan pun atas persetujuan darinya, sebagai pembelajaran bagi para perempuan yang ingin memilih calon pasangan hidup, agar teliti dan kenali mendalam siapa dan bagaimana ia berprilaku.**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here