Mengobral Urusan Ranjang di Media Sosial

0
249

“Yeah, 13 tahun kawin sekarang kita pisahan. Hura!”

Demikian status gembira pada sebuah akun media sosial (medsos). Emoticonlike, marah, melongo” bertaburan. Barangkali kalau ada emoticon thumb down, maka tak kalah seru menghiasi laman status ini.

Sekilas kita tangkap, wah letupan status kegembiraan. Tapi saya tangkap sebaliknya: kemarahan besar, balas dendam, kekecewaan.

Jejaring medsos ternyata berubah menjadi kamar ‘mediasi’ untuk berbagi segala permasalahan hidup. Tulisan ini adalah satire pentas pelaku kehidupan, manusia.

Terkadang kita memang tak tahu diri, karena kita merasa super dan berusaha berdiri kuat di atas kekecewaan atau kegagalan dengan letupan yang notabene meleset mewakili performa kita sebagai seorang istri, ibu dan wanita.

Tak terhitung berapa kasus gagalnya rumah tangga berserakan secara gratis pada laman medsos. Bahkan pengumuman perceraian pada media sosial kini berubah menjadi iklan menawarkan diri secara gratis “I am free”. Sinyal lampau hijau untuk relasi selanjutnya.

Dan ya, dalam waktu belum seminggu dari reaksi sekian ratus ucapan ikut prihatin tentang kandasnya rumah tangga, bagai kilat menyambar muncullah malaikat penolong. Amazing!

Bermula dari pesan khusus ikut prihatin, tak puas dengan pesan singkat akhirnya berdua nekat bertemu melanjutkan percakapan serius. Belum lama, baru dua gelas traktir minum dan ngobrol soal yang masih berwarna abu-abu, berdua sudah telanjang bulat di atas tempat tidur yang asing.

Tak ada rasa menyesal, bersalah atau berdosa. Yang bisa diingat adalah bagaimana akhirnya orgasme. 13 tahun perkawinan, orgasmenya bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Tapi ini, wow, usia pertemuan belum lagi lima jam orgasme sudah bisa dua sampai tiga kali. Hebatkan?

Ini adalah gambaran kekinian tentang bagaimana kita terjebak. Satu masalah belum jelas terselesaikan, kita sudah berani mengambil keputusan yang juga masih tak jelas.

Apa yang kita cari, kepuasankah? Balas dendam, kemarahan, putus asa? Kita memang bagai seorang pelacur ketika beban ini menghantam hati dan pikiran kita.

Ternyata, keterpurukan ini bukan hanya melanda kaum para istri saja, tetapi juga para suami. Cepat sekali para suami gagal ini terjebak pada tempat maksiat pelepas kekecewaan.

Alangkah cepatnya kaum suami istri yang akrab dengan media sosial menggelar “urusan ranjang” mereka untuk konsumsi umum. Tanpa malu-malu, tanpa mau melirik pihak ketiga dalam kehidupan mereka, anak.
Ruang mediasi keluarga dengan cepat mereka singkirkan, yang penting kekecewaan mereka segera terobati.

Ruang mediasi itu kini berpindah sangat praktis pada telepon genggam, cukup dengan akun media sosial dan kalut pikiran pun terasa ringan.

Tak usah menunggu nasihat mediasi dari lembaga nasihat perkawinan atau pengadilan, cukup inisiatif sendiri dengan berbagi status soal galaunya rumah tangga. Tak usah menunggu pakar penasihat perkawinan, cukup advis atau tips dari komentator media sosial.

Inilah era kekinian, urusan ranjang pun tak lagi sungkan kita gelar untuk konsumsi umum. Kita toh manusia tak sempurna. Biarkan saja umum juga memahami bagaimana tengiknya aroma pakaian dalam kita. Sebab kita sudah ber-adagium, manusia sempurna pun tak kalah sengitnya dengan problema dirinya sendiri (da291017nl).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here