Menjadi Ibu, Bukanlah Sebuah Kompetisi

0
193
pixabay

“Age cannot wither her, nor custom stale her infinite variety..”

[Usia tidak bisa membuatnya layu, juga kebiasaan usangnya yang tak terbatas.]

Antony and Cleopatra, Shakespeare –

Ada banyak perempuan, para ibu, yang seringkali tanpa sadar terjebak dalam mindset sebuah kompetisi. Mindset menganggap dirinya lebih baik ketimbang perempuan lain, hanya karena merasa memiliki atau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan atau dimiliki perempuan lain.

Sudah ghalib kita temui, ada banyak perdebatan yang tidak perlu, yang terjadi di antara para perempuan, para ibu di masyarakat kita.

Seperti misalnya perdebatan bahwa seorang ibu seharusnya berada di rumah, mencurahkan segenap waktunya hanya untuk mengurus keluarga, anak serta suami, karena ibu ya “seharusnya” berprofesi sebagai ibu rumah tangga seutuhnya. Sedangkan ibu yang bekerja, itu menyalahi “kodrat” sebagai ibu yang seharusnya berada di rumah mengurus keluarganya. Padahal, seringkali, kita sebagai perempuan, justru lebiih nyaman dilayani oleh sesama perempuan saat di luar rumah, seperti cek kesehatan kandungan misalnya. Perempuan biasanya lebih nyaman berkonsultasi dengan dokter perempuan juga. Lalu, apa kabarnya, jika mereka-mereka ini tak mau menyalahi “kodrat” mereka sebagai ibu, tidak mau menjalani profesi sebagai dokter, perawat, terapis kecantikan, dan lain sebagainya?

Lalu ada pula para perempuan yang merasa lebih seksi, karena memilih melahirkan secara c-section atau secio dan memilih susu formula untuk bayinya, agar tubuh tetap terjaga keindahannya. Sementara ia asik saja mencemooh perempuan yang memilih melahirkan normal, menyusui bayinya dengan ASI dengan resiko tubuh menjadi gemuk setelah melahirkan. Walau di lain kesempatan, berlaku pula sebaliknya. Perempuan yang bisa melahirkan secara normal, mencemooh perempuan yang melahirkan secara secio, dianggap manja, tak tahan sakit, dan lain sebagainya.

Belum lagi perdebatan tentang pemakaian pampers dan popok kain, berat badan antara si kurus dan si gemuk, make up antara yang terbiasa ber-make up dan yang tidak, dan lain sebagainya. Masing-masing merasa menjadi seorang ibu, adalah sebuah kompetisi, menjadi yang terbaik di antara semua ibu di dunia.

Menjadi seorang ibu, adalah sebuah lakon mulia, bukan tentang perdebatan, melainkan tentang kebahagiaan. Karena sebaik-baiknya seorang ibu, adalah ibu yang berbahagia menerima dirinya apa adanya sebagai seorang ibu. Mengasuh anak-anaknya dengan penuh cinta dan kebahagiaan, dengan versi terbaik menurutnya, tanpa adanya ego bahwa ia adalah ibu yang paling bijak dalam mengasuh anak, atau penghakiman bahwa ia adalah ibu terbaik ataupun terburuk di muka bumi ini.

Karena yang terpenting untuk menjadi seorang ibu, adalah tentang mencintai dan dicintai keluarganya, bukan orang lain. Selamat hari ibu, untuk semua para ibu di dunia ini, tersenyumlah dengan cinta, karena cinta, mengobati segalanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here