Menjadi Janda yang Minim Dibicarakan, Bisakah?

0
289

Menjadi janda adalah hal yang benar-benar tak pernah aku bayangkan secepat ini terjadi. Kepulangan Mas Bojo 17 September 2018 praktis membuat sebutan janda menyemat dalam diriku.

Tak mudah bagiku untuk menyesuaikan diri dengan sebutan janda tersebut. Awal aku merasa tak enak hati saat harus mengurus surat kematian untuk keperluan administrasi BPJS. Dari situ aku menyadari bahwa kini sudah berganti status menjadi janda. Ada perasaan aneh menjalari hatiku saat itu, sebisa mungkin aku berusaha menerima ini, meski untuk berdamai dengan sebutan baru aku membutuhkan waktu.

Hari demi hari berlalu, setelah beberapa hari kuhabiskan waktu di rumah, tiba saatnya aku keluar dari persembunyian. Berbaur dengan para tetangga saat belanja ataupun saat menghadiri bermacam undangan menjadi sesuatu yang membutuhkan energi ekstra. Bukan karena baper saat terkadang aku menerima pandangan lumayan aneh dari mereka. Meski aku tak ingin menerjemahkan arti pandangan mereka toh terusik juga hati ini untuk mereka-reka apa sebenarnya yang mereka pikirkan tentangku sebagai janda baru.

Mungkinkah mereka merasa kasihan terhadapku? Atau malah merasa ketakutan dengan predikat baruku? Seribu tanya melintas dalam pikiranku sesaat setelah aku membaur dengan mereka.

Sebenarnya orang-orang itu tak bersalah saat memandang miring seorang janda jika yang bersangkutan (janda tersebut) tak bisa menjaga diri, namun akan menjadi momok bagi para janda yang sudah berusaha menjalani kehidupan wajar namun masih mendapat tanggapan tidak baik dari sekitarnya. Semua karena selama ini telah terbangun prasangka bahwa janda itu wanita yang kurang baik, Padahal mereka tidak tahu alasan menjadi janda oleh sebab apa?. Misalkan janda karena bercerai, apakah itu juga sebagai bukti wanita (janda) itu tidak baik?.Bisa jadi dia memilih bercerai karena suaminya yang kurang ajar, punya istri lagi atau selingkuh?. Jadi tidak bisalah menilai bahwa janda itu sebagai wanita yang tidak baik.Bukankah ada pepatah jawa yang mengatakan becik ketitik ala ketoro? Baik itu akan terlihat, dan buruk itupun pasti terlihat juga. Jadi tak bisa kita menyama-ratakan bahwa semua janda itu tidak baik.

Apalagi untuk janda yang ditinggal berpulang ke Ramatullah. Setelah menjanda lalu dia bergerak mencari nafkah dengan keluar rumah, apakah itu juga patut dicurigai dan bahkan dianggap wanita tidak baik?. Bukankah kehidupan harus berlanjut?. Kalau tidak mencari nafkah, siapa yang akan menghidupinya sedangkan suami yang harusnya menafkahi telah tiada?.

Memang tidak semua orang menganggap janda itu sesuatu yang patut jadi bahan pembicaraan, namun tak dipungkiri yang berkembang di masyarakat bahwa janda itu kerap menjadi bahan pembicaraan yang seru dan tak ada habisnya.

Sebagai janda baru, aku berusaha untuk tidak menyulut banyak tanya ataupun praduga dari orang lain. Misalnya dulu sering ramah pada bapak-bapak di komplek perumahan, kini mulai aku kurangi agar tak menjadikan bahan pembicaraan banyak tetangga. Dulu tiap ada acara yang mengharuskan pulang malam seorang diri, atau kadang diantar pulang dengan teman laki-laki yang Mas Bojo kenal, kini aku minta dijemput anak atau pulang diantar teman perempuan dan itu harus sampai di depan rumah. Semua aku lakukan dengan kesadaran penuh karena di masyarakat kita seorang janda lebih sering dibicarakan ketimbang seorang duda misalnya.
Soal berbusana dan berdandan, juag perlu diperhatikan. Kebetulan aku jarang sekali berdandan, namun untuk berbusana pun aku selalu berhati-hati, agar tak menimbulkan syak wasangka orang lain.

Belum lagi soal tulisan-tulisanku. Teman-teman kerap menjuluki si lebay sebab tulisan-tulisanku yang kebanyakan soal cinta memang terlalu berlebihan. Namun bukan berarti tulisanku (puisi terutama) adalah cerminan hatiku, Terkadang ada teman curhat, lalu aku jadikan puisi, atau aku lihat di sekelilingku, kemudian tercipta puisi atau cerpen tentang itu dan lain-lain.

Setelah menjadi janda, aku mengurangi puisi-puisi tentang cinta atau rindu selain tentang Mas Bojo. Sebab pernah aku menulis puisi tentang kerinduan, ada yang langsung menghubungiku untuk mengucapkan selamat karena aku sudah menemukan pengganti Mas Bojo. Duh..

Keadaan yang seperti ini yang menjadi kekhawatiranku saat aku ingin menulis puisi atau cerpen dan dikaitkan dengan keadaanku yang sebenarnya (nyata). Alhasil aku tak lagi bebas menuliskan apa yang melintas dari pikiranku.

Banyak sahabatku yang menyarankan agar aku tetap menjadi diriku sendiri dalam artian tak terlalu memikirkan tanggapan dan anggapan orang lain tentang diriku. Artinya aku tak perlu membatasi pergaulan atau tetap menulis puisi-puisi cinta sesuai kata hati, namun sejauh ini aku masih belum bisa terlalu bebas untuk itu. Aku masih mempertimbangkan dengan pendapat-pendapat mereka soal predikatku sebagai janda.

So hidup masih terus berlanjut, mungkin berdamai dengan keadaan akan menjadikan kehidupanku membaik di satu saat nanti. Aku tak perlu merisaukan predikat jandaku, atau anggapan orang lain terhadapku. Toh selama ini aku sudah berusaha untuk tidak menjadi bahan pembicaraan mereka yang haus gosip atau kepo terhadap kehidupan orang lain. Hanya waktu yang bisa menolongku lepas dari kekhawatiran melangkah menapaki takdir. Namun yang pasti saat ini, menjadi janda adalah hal harus aku terima. Tuhan sudah atur semua jalan hidup makhluknya.

**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here