Meruwat Tanah Air, Air Mata, Merajut Pancasila Kita

0
130

Amalia Pulungan

Bangsa Indonesia pernah mengedepankan kancah politik ideologi, bahkan sampai mencoba menguji ideologi negara. Namun merawat Tanah Air bukan saja membangun fisik, tetapi juga merawat isinya -sudah barang tentu baik alam, manusia dan isi roh jiwanya.

Jika kita bentangkan bayangan akan sebuah masyarakat yang kaya akan kearifan nusantara hingga sumber alamnya. Dari 635 bahasa daerah yang ada di bentangan negeri Indonesia, terdapat manuskrip-manuskrip yang mengurai tentang “adab”, meningkatkan derajat manusia ke sisi yang lebih mulia. Menempa makna kerendahan, sopan, tajam berpikir, toleran masih banyak pula yang tersirat tetapi tidak tersebar secara merata.

Salah satu sisi sentral merawat dan penjabaran tentang “Tanah Air” sebagai salah satu kompas bangsa adalah bisa menimbang bila kita berkali-kali luput mengadakan rekonsiliasi nasional (tulus dan bermakna). Debat intelektual, analisa-historis, politik, berbagai metode ilmu lainnya, belum bisa meluluhkan mereka yang masih berpikir pada sekitar “kelompok” (clan).

Pancasila dan Rekonsiliasi Nasional

Bekal adab dan kearifan nusantara yang tersisip di hampir seluruh penjuru negeri, memiliki kekuatan untuk menggalang secara bersama sebuah niat meluncurkan ketulusan gerakan rekonsiliasi nasional. Secara ber”adab” juga lebih puitis.

Pancasila sendiri sebagai satu dasar negara mengalami ujian terus-menerus. Ada yang hilang dari peristiwa-peristiwa beberapa waktu kemarin. Yaitu sadarnya secara menubuh nilai-nilai dan butir-butir Pancasila itu sendiri.

Menjauh dari slogan, Pancasila ditujukan untuk sebuah perekatan bangsa. Masalahnya, keinginan yang sungguh-sungguh dari komunitas akhir-akhir ini tampak tidak menjadi pilihan. Dalam dinamika gerak konsep kebangsaan berkelindan banyak pilihan. Adalah menjadi penting untuk memulai menjahit Pancasila kembali ke tataran yang berisikan gotong-royong dan kemanusiaan.

Untuk itu memulainya dari akar sejarah awal pusaran sejarah menjadi penting. Mata rantai sejarah bisa silih berganti. Peran dan keberadaan rakyat tetap berlanjut eksistensinya. Berharap mendekatkan diri pada cemerlangnya isi kupasan dan pesan konstitusi bangsa.

Sejarah Masjid Kwitang dan Habib Ali

Sejumlah masjid bersejarah di Jakarta kerap dikunjungi ribuan umat Islam dari penjuru Indonesia, tak terkecuali Masjid Al Riyadh yang biasa disebut Masjid Kwitang. Tak hanya beribadah, ribuan umat Islam ini juga melakukan ziarah ke makam Habib Ali Bin Abdurachman yang adalah pendiri Islamic Center Indonesia dan Majelis Taklim Kwitang (pada 1911), sebuah forum untuk diskusi, belajar dan ceramah mengenai masalah sosial-kemasyarakatan-keagamaan. Habib Ali juga mendirikan al-Rabithah al-Alawiyah pada 1928. Selain membangun masjid, Habib Ali juga mendirikan sebuah madrasah Unwanul Falah.

Beliau juga teman dekat Sang Proklamator, Bung Karno. “Dengan kata lain Bung Karno ini adalah ‘auliya’-nya Habib Ali. Beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Habib Ali menawarkan kepada Bung Karno untuk tinggal di rumahnya sebelum memproklamirkan kemerdekaan RI. Tujuannya adalah untuk menghindari ancaman Jepang dan juga Belanda.

Habib Ali dan Bung Karno.

Ada banyak habib dan tokoh Arab dulu seperti Syaikh Salim bin Sumair, Habib Husain Alattas, atau Hamid Al-Gadri yang ikut berjuang bersama tokoh-tokoh Indonesia melawan penjajah (Belanda maupun Jepang), ikut merumuskan dasar-dasar falsafah kenegaraan, serta ikut mendirikan NKRI.

Meletakan dasar NKRI yang tumbuh secara sejarah ini perlahan dirawat dan diruwat bukan hanya sekadar dengan dogmatisme agama. Komunitas majelis taklim ini bertumbuh lalu bergerak kepada nafas generasi anak bangsa. Ini menjadi majelis millenial dengan kekhasan sendiri. Dia bertumbuh seiring tumbuhnya roda socio economic dari bawah. Pada malam ke-25 Ramadhan warga Jakarta di Kwitang dan berbagai tempat selain beribadah juga bersuka dalam pasar malam yang sederhana. Indonesia yang riang selepas pemilu dirayakan tidak dengan megah. Disyukuri dengan melihat pasar malam dan berbuka dengan lauk dari warung Tegal dan kebuli. Hibriditas tumbuh dengan perlahan dan suka cita.

Mari Bangun Jembatan

Mengutip pidato Paus Fransiskus pada pesan Paskah menyikapi bom gereja Katolik di Srilangka: “Semoga Dia, menjadikan kita pembangun Jembatan bukan Tembok.”

Tradisi berkumpul dan makan nasi kebuli bersama setiap hari ke-25 di Bulan Ramadhan, dimana semua orang tanpa memandang agama, ras, gender dan usia dapat datang berdiskusi dan tertawa bersama. Di sini terlihat pentingnya Rekonsiliasi Nasional dilakukan dari bawah untuk meruwat dan merawat Pancasila.

Amalia Pulungan, 31 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here