Nadiem

0
111
Nadiem Makarim. Foto: tempo.co

Bunga Kejora

Jokowi telah mengumumkan kabinetnya beberapa waktu lalu. Jokowi alias Joko Widodo, pemimpin eksekutif tertinggi di Indonesia, presiden ke-7. Orang Solo yang tampilannya biasa. Biasa tampil dengan kemeja putih, tidak disisipkan di celana panjang seperti seragam sekolah. Kakinya dibungkus sepatu kets. Sisiran rambut biasa seperti guru sekolah jaman dulu. Badan Jokowi tinggi kurus. Orang biasa dengan bros kecil merah putih yang dipeniti di baju bagian dada kiri. Nah, ini yang orang lain gak boleh memalsukan karena ini identitas bahwa dia, Joko Widodo, presiden Indonesia.

Meski penampilannya biasa, salah satu yang bikin dia jadi kelihatan melek dunia adalah Jokowi friendly user komunikasi digital. Mungkin karena itu, wong Solo yang pakai blus dikeluarkan itu bikin banyak orang kagum; sang bapak bukan orang yang ketinggalan jaman, bukan tipe ortu yang pakai cangklong dan mengurus mobil antik.

Maka saya, dan banyak orang, senang sekali waktu presiden umumkan salah satu pembantunya adalah anak muda. Nadiem Anwar Makarim. Umurnya 35 tahun. Master administrasi bisnis Harvard. Anak muda ini sukses merevolusi cara transportasi konvensional dengan mengawinkan pada kecanggihan digital. Nadiem dan kawan-kawan bikin program layanan servis kepada warga kota besar untuk melayani pergi-pergi, beli makanan 24 jam, dan lain-lain.

Saya duga Jokowi kagum karena semuda itu punya inovasi dan kreasi yang menggebrak. Jokowi, langsung cocok, mungkin, setelah bertemu beberapa kali dengan Nadiem.

Mungkin Jokowi sangat percaya anak ini bisa juga mengurus satu persoalan yang besar sekali pengaruhnya, penting, namun rumit karena terlibat dalam perangkap birokrasi. Yaitu pendidikan. Mampus memang. Magnitudenya besar. Bayangkan, jumlah orang yang perlu pendidikan puluhan juta, keberadaan mereka ada di antara 17 ribu pulau, besar dan kecil. Yang status ekonomi sosial luar biasa ragamnya. Begitu juga keadaan guru-gurunya; dengan kemampuan mengajar yang level pengetahuannya lain-lain, teknik mengajarnya variatif. Belum lagi tuntutan kurikulum, teriakan ratusan ribu guru honorer, standar pengetahuan yang wajib, buku-bukunya, bangunan sekolahnya. Pendeknya tobat, tobat urusan pendidikan rumit luar biasa.

Tapi tahukan kalian apa yang menjadi viral di media sosial, usai Nadiem resmi menjadi bagian dari personil kabinet Presiden Joko Widodo jilid 2 2019-2024?

Ternyata soal agama.

Agama Nadiem dan agama istrinya. Oooh my God. Bertebaranlah foto pernikahan Nadiem dengan jas dan istrinya dengan dress pengantin, lengkap dengan medium close up yang memperlihatkan gantungan kalung di leher istrinya, Franka Franklin. Sampai kemarin di beberapa whatsapp grup masih ada yang mempersoalkan urusan ketuhanan Nadiem. Ada tandingan foto perkawinan sang menteri pendidikan di KUA dengan pakaian adat Jawa. Lho istrinya dua, begitu komentar norak yang ada di bawahnya. Saya langsung close whatsapp.

Pantas saja Eric Tohir di sambutannya sebagai menteri BUMN bilang ia tidak mau bikin WAG kantor. Banyak cocomeo saja, katanya. Mungkin maksudnya ada pembicaraan nyinyir tak berguna.

Sebelum ada kasus Nadiem, tingkat kepercayaan saya tentang “kewarasan” nilai bangsa ini sedang di titik terendah. Saya khawatir masyarakat, seperti juga saya, sering merasa anomie (kosong nilai) akibat bombarden pernyataan pemain medsos yang tidak adil, melecehkan, fitnah atau ngurusin privacy orang lain. Seringkali saya ragu, dan berpikir keras untuk percaya.

Setidaknya itu lah yang bisa di baca di platform top medsos di Jakarta, yang jadi contoh nilai.

Rupanya kekecewaan saya belum bisa sembuh dalam waktu dekat.

(Bunga Kejora Trihusodo )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here