Natal dan Kemanusiaan

0
85

Ada yang menggelikan setiap kali datang bulan Desember, yakni perdebatan boleh tidaknya mengucapkan Selamat Hari Natal. Ada kekhawatiran di sebagian kalangan bahwa pengucapan hal tersebut akan membuat dirinya auto murtad. Padahal ya saya percaya umat Kristiani yang sudah matang juga tidak mengharapkan ucapan seremonial semacam itu, dan mereka santai-santai saja mengucapkan Selamat Menyambut Ramadan atau Selamat Idul Fitri.

Kalau diamati dan dipikir-pikir, perdebatan sengit itu ‘hanya’ terjadi untuk momen Natal. Hal sama tidak terlihat pada momen istimewa agama lain. Entah kenapa seolah Kristen adalah musuh bebuyutan. Ah, semoga ini anggapan yang berlebihan semata.

Mengenai ucapan Selamat Natal, sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran apabila ada keinginan untuk menyampaikannya. Sebab di bumi ini manusia tidak hidup di ruang hampa. Manusia berbaur dengan manusia lain dalam hubungan-hubungan yang kompleks, ada hubungan sesama kolega, teman kerja, atasan dan bawahan, teman dalam suatu komunitas, tetangga, dan seterusnya.

Pada dasarnya semua manusia senang dihargai, merasa gembira ketika mendapat perhatian. Ucapan selamat pada momen-momen istimewa termasuk Natal merupakan bentuk penghargaan, perhatian, empati, sama seperti ungkapan, “Saya turut berbahagia untuk kebahagiaan Anda.”

Bayangkan ketika saudara Muslim mendapat ucapan Selamat Idul Fitri dari saudaranya yang Kristiani. Walau mungkin tidak mengharapkan ucapan seremonial, tentu ada rasa haru dengan sikap simpatik semacam itu. Seperti itulah kurang lebihnya yang dirasakan saudara Kristiani ketika mendapat ucapan Selamat Natal dari saudaranya yang Muslim.

Kadang diperlukan perenungan untuk menempatkan diri di posisi ‘lawan’, melihat dengan sudut pandang ‘lawan’, mendengar dengan telinga ‘lawan’. Proses berpikir seperti ini biasanya akan memudahkan seseorang untuk berempati, tidak menghakimi, tidak merasa benar sendiri, tidak merasa paling suci.

Karena kehidupan bermasyarakat itu nyata, bukan di awang-awang. Betapa menderitanya seseorang, katakanlah ia seorang ibu yang beragama dengan paranoid ketika rumah tetangga sebelahnya dihuni keluarga Kristen. Pada hari Natal, ia menghindar dengan mengurung diri dalam rumah atau pergi jauh. Saat berpapasan tanpa sengaja, merasa kikuk atau kaku, tidak enak hati, karena tetangganya yang juga seorang ibu itu tiap Lebaran datang ke rumahnya, menjabat tangannya, memeluknya sambil berkata hangat Selamat Idul Fitri. Betapa tidak nyamannya situasi itu.

Atau dalam konteks hubungan antarnegara, misalnya seorang presiden berlatar agama Kristen mengucap Selamat Idul Fitri pada Presiden Jokowi yang Muslim, lalu saat Natal tiba Presiden Jokowi tidak mengucapkan apa-apa, diam saja. Lihat, betapa tidak eloknya, betapa egoisnya, betapa dinginnya. Padahal sikap hangat antarkepala negara diperlukan untuk menjaga hubungan diplomatik berjalan baik, bagian dari upaya menciptakan harmoni secara luas, yakni kedamaian dunia.

Kalau misalnya ucapan Selamat Natal sampai dilarang kemudian pelarangan itu dikampanyekan, itu menjadi sesuatu yang lucu. Bahkan lebih jauh, bisa menyulut api permusuhan. Perlu diwaspadai adanya motivasi politis di baliknya sehingga permusuhan bisa berkembang pada pecah-belah kerukunan sesama anak bangsa.

Sudah seharusnya kaum beragama mengembangkan sikap kritis. Tidak menuhankan agama. Tidak menelan mentah-mentah suatu perintah atau anjuran dari orang yang katanya ulama. Begitu banyak ulama di Indonesia. Mengapa tidak mau mendengarkan ulama yang moderat, yang teduh, yang ucapan dan perilakunya membumi, yang mengembangkan kajian Islam inklusif, yang tidak alergi membangun dialog lintas agama.

Dengan meniatkan dan meletakkan ucapan Selamat Natal dalam kerangka menjaga hubungan baik antarsesama manusia, tidak perlu ada keraguan atau ketakutan akan kehilangan iman. Ingat kembali pesan Ali bin Abi Thalib, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here