Skip to main content
Categories
BudayaKehidupanKemanusiaanMedia SosialNusantara

Natal Itu untuk Dirayakan dalam Damai, Bukan Diperdebatkan

Beberapa hari ini mulai ramai lagi perdebatan mengenai Natal, baik di kalangan eksternal masyarakat kita, maupun di kalangan internal kaum Kristiani sendiri. Mulai dari ucapan selamat Natal yang diharamkan, hingga prosesi kelahiran Yesus yang dipertanyakan keabsahan tanggalnya. Apakah benar tanggal 25 Desember itu tanggal kelahiran Kristus, ataukah hari ulang tahun dewa dewi pagan, dan lain sebagainya.

Sejujurnya, hal tersebut amat sangat tidak penting untuk diperdebatkan. Karena kita bicara tentang keyakinan, kepercayaan, agama, sesuatu yang memang tak mudah dipahami secara rasional. Karena ini berkaitan dengan spiritualitas seseorang, bukan logika seseorang, kita bicara rasa, yang terletak di dalam hati, bukan di dalam kepala.

Natal, adalah sebuah perayaan simbolik, sebuah simbol akan kelahiran Sang Juru Selamat, yang diyakini oleh umat Kristiani, yaitu Yesus Kristus. Mengenai ketepatan tanggal, yaitu kenapa tanggal 25 Desember yang dipilih, ada banyak catatan sejarah gereja yang mencatatnya. Salah satunya adalah kronik Clement of Alexandria (150-211/216), yang membahas tentang Feast of Annunciation (perayaan pemberitahuan) yang dirayakan gereja setiap tanggal 25 Maret, untuk memperingati hari dimana malaikat Gabriel memberitahu Maria, bahwa ia akan menngandung. Menurut sejarah, bahkan Gereja (baik Anglikan maupun Katolik) di Inggris, menyebutnya sebagai Lady Day, sekaligus menjadikannya sebagai hari tahun baru hingga tahun 1752.

Sementara, berdasarkan kronik tersebut di atas, Sextus Julius africanus (Chronografiai-225), mengajarkan teori penghitungan waktu alkitab. Menurutnya, jika tanggal 25 Maret sebagai hari inkarnasi Allah Putera menjadi manusia, dan pada hari itulah Maria menerima kabar gembira tentang kehamilannya, maka 9 bulan kemudian, tanggal 25 Desember, adalah hari kelahiran Yesus Kristus. Dan di tanggal itu pula, biasanya diperingati perayaan musim dingin para penyembah pagan sebelum mereka memeluk agama Kristen.

Di sisi lain, perayaan Natal pun ternyata dirayakan berbeda, oleh umat Kristiani di seluruh dunia. Gereja Katolik dan Protestan memang memperingati Natal pada tanggal 25 Desember, tapi Gereja Ortodok Armenian, Gereja Ortodoks Gregorian serta Gereja Apostolik Armenian merayakan Natal, justru pada tannggal 6 Januari tiap tahunnya. Dan perayaan Natal sendiri, menurut sejarah gereja, baru diperingati oleh umat Kristiani di seluruh dunia pada abad kedua. Itulah mengapa, sebenarnya, di dalam Alkitab sendiri, tak ada catatan sama sekali mengenai perayaan Natal ini. Walaupun demikian, jika bertentangan dengan ajaran Alkitab, maka bukan tidak mungkin sidang gereja memperbolehkan perayaan tersebut dilakukan.

Dan di Indonesia, untuk perayaan Natal tahun ini, PGI dan KWI, bulan sebelumnya, telah mengumumkan tema Natal Nasional 2017, yaitu “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu. (Kolose 3;15a)”. Tema ini diangkat bagi umat Kristiani, agar senantiasa mengimani dan mengedepankan ajaran kasih Kristus dalam menghadapi situasi sekarang. Pun sebagai pengingat bahwa perbedaan yang ada, hendaklah dijadikan pelengkap satu dan lainnya, bukan untuk diperdebatkan hingga memperuncing friksi yang ada.

Selamat Natal bagi umat Kristiani yang merayakannya, semoga damai sejahtera Natal, menyertai semuanya. Damai di bumi, damai di hati, damai bagi semua mahluk.

Web kolaboratif, konten adalah tanggung jawab penulis (Redaksi)

Subscribe our newsletter?

Join Newsletter atau Hubungi Kami: [email protected]

Inspirasi
BelanjaKarirKecantikanKehidupanKeluargaIndeks
Let's be friends