Ngobrol Desain Fashion dengan Seniman Fashion Sascha Poespo

1
127
Sascha Poespo.

Sascha Poespo, perempuan yang sempat menjadi desainer perhiasan selama 10 tahun kini lebih suka disebut sebagai Fashion Artist atau seniman fashion. Sejak tahun 2012 Sascha mulai mendirikan wadah berbagi ilmu fashion drawing dan drawing concept yang berbasis online. Saschartist kini namanya.

Kini kursus desain online-nya ini telah menghasilkan ratusan professional di bidang fashion design, fashion stylist dan fashion illustrator. Saschartist membantu mewujudkan mimpi siapapun untuk berkarya dan berekspresi membuat style menjadi karya seni dalam bentuk Fashion on Art.

Minggu lalu redaksi peranperempuan.id berkesempatan mewawancarai Sascha Poespo yang kini juga mulai menuliskan artikel-artikelnya seputar fashion untuk peranperempuan.id. Simak wawancaranya. Cekidot.

Halo Mbak Sascha, kegiatan apa nih kemarin yang usai dilaksanakan? Design competition? Boleh cerita sedikit tentang itu?

Ini ceritanya saya mendampingi murid saya di Bali untuk ikut kompetisi design yang diadakan oleh Kabupaten Badung dan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Bali, dalam rangka mengangkat kain traditional Bali khususnya Badung. Dimana kain tenun Bali yang disebut Endek ini memiliki lambang khas yaitu bunga Kemboja.

Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta, terdiri dari 3 kategori, a. Ready to wear, b. Busana kebaya untuk undangan, c. Busana pesta.

Kebetulan murid saya ikut ketiga kategori di atas, dan semua lolos masuk final. Alhamdulillah untuk kategori busana kebaya untuk undangan, ia meraih juara 1.

Murid saya yang ikut ini hanya satu, usianya 36 tahun, tapi wow super duper proud karena ketiga design karyanya semua masuk final.

Wow, selamat ya Mbak Sascha. Sudah sejak tahun berapa nih mulai menjadi designer profesional?

Pertama, saya bukan designer, saya ini seniman fashion.

Kebetulan saya terlahir di keluarga fashion. Melek mata sudah tahu kalau jenis kelamin ada 3, hitam, putih, dan abu-abu.

Oom saya, dua orang adalah fashion designer senior dan mereka penulis buku fashion untuk Penerbit Gramedia dan Kanisius. Satu orang oom saya sudah meninggal namanya Sanny Poespo. Masih ada oom saya yang masih ada, namanya Goet Poespo, di usia yang 80 tahun masih aktif mengajar dan menulis.

Saya mulai mengajar sejak pulang dari Amerika, selesai belajar fashion di tahun 1998, sampai sekarang.

Apa kegelisahan Mbak Sascha dari dunia fashion Indonesia?

Kalau menjadi fashion designer saya harus bertanggung jawab membuat busana juga. Walaupun saya bisa, tapi saya tidak mau fokus ke sana. Sudah terlalu banyak fashion designer yang gampang naik namanya bukan karena prestasi dan proses, tetapi karena ada uang yang bisa menaikkan nama. Nama bisa terkenal tapi tidak ada tanggung jawab terhadap design sebagai bentuk intelektualitasnya.

Kasihan teman-teman yang belajar susah payah dan benar-benar merangkak berproses. Saya sudah menyadari hal ini dari tahun 1998, ternyata dugaan saya gak salah. Sekarang profesi fashion designer kayak jamuran, di mana-mana.

Ini adalah bentuk kegelisahan saya yang harus diluruskan. Kalau untuk titel, bangga atas hasil belajar begitu lulus sekolah fashion it’s ok. Jadi buat pecutan. Saya kasihan dengan designer yang gak pernah belajar dan hanya tahu jahit dan pola, baru sekali dua kali jalan di catwalk, sudah bisa bilang mereka fashion designer. Apalagi bicara tentang attitude mereka yang sombong-sombong. Ini yang harus saya luruskan.

Pertanyaan terakhir, “rantai” dalam industri fashion apa aja sih?

Hal terpenting sebagai mata rantai industri fashion ya pastinya Sumber Daya Manusia.

Seorang designer mewujudkan karya designnya melewati berbagai proses, mulai dari desain, lalu pattern making, sample making, cutting, sewing hingga finishing dimana itupun melalui quality control yang tepat untuk menghasilkan karya yang sempurna.

Jadi bisa dibayangkan berapa jumlah SDM yang diperlukan. Itu pun masih banyak lagi yang belum disebut, karena pada satu perusahaan besar brand ternama mereka memiliki team pada setiap divisinya.

SDM sebagai kunci utama menjadi satu issue saat ini berkaitan dengan Fast Fashion yaitu praktik perburuhan. Negara dunia ketiga jadi sasaran utama pastinya. Kamboja, India, Bangladesh dan too bad, Indonesia juga. Keselamatan kerja tidak diperhatikan, jam kerja, lalu perhitungan upah masih menjadi rating tertinggi untuk diperjuangkan.

Belum lagi tekstil sebagai salah satu mata rantai yang nggak kalah pentingnya bagi industri fashion. Limbah yang ditimbulkan pun juga menjadi masalah terbesar di dunia saat ini, dimana penduduk bumi sudah mulai sadar untuk sayhello… save the planet please….”

Hahahaha, kalau mau diurai satu-satu pastinya gak selesai selesai yaaaa…. banyak issues di balik dunia fashion yang pelan-pelan harus dicari solusi sehatnya.

Sascha Poespo saat mengajar desain fashion. Foto: dok. Sascha Poespo

Sascha mengungkap sudah memiliki lebih dari 500 murid berusia 6 hingga 60 tahun yang belajar, bukan hanya dari Indonesia, melainkan dari negara luar, seperti Kanada, Mesir, Belanda, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Hongkong, meski masih didominasi murid asal Indonesia. Perempuan kelahiran 27 maret 1970 ini menyebutkan bahwa dirinya membuka 9 kelas belajar online dengan menyediakan 9 modul belajar.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here