Pak Menhub Budi Karya, Kenapa Sih Bapak Tak Belajar dari Covid-19 yang Telah Menjangkiti Anda?

0
3983

Hari ini (Kamis, 14 Mei 2020) laman media sosial saya dibuat heboh oleh foto-foto betapa ramainya terminal 2E bandara Soekarno-Hatta. Ramai dengan orang-orang yang hendak berpergian, padahal Pemerintah Pusat sudah menerapkan social distancing.  Saya kok jadi terpikirkan untuk menulis sesuatu buat pak Budi Karya ya.

Pak Menhub Budi Karya yang terhormat,

Sebelum saya menuliskan unek-unek saya, izinkan saya mengucapkan selamat atas kesembuhan bapak dari terpapar virus Covid-19. Semoga bapak selalu diberikan kesehatan ya. Dan tak lupa pula saya juga ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa.

Pak Menhub Budi Karya…,

Bapak tau nggak, jika selama bapak di rawat di RSPAD Gatot Subroto tuh Pak Presiden Jokowi, Pak Doni Monardo ketua Gugus Percepatan Pengendalian Covid-19/Kepala BNPB sudah mengimbau pada masyarakat untuk di rumah saja jika tak ada keperluan yang begitu mendesak. Perusahaan-perusahan memberlakukan kerja bergiliran, bahkan kerja dari rumah (Work From Home/WFH), mas Menteri Pendidikan Nadiem Makariem pun ikut memberlakukan jika anak-anak, sekolah dari rumah saja (School From Home/SFH) loh pak, bahkan pemerintah pun memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar, ketimbang harus  me-lockdown Indonesia, yang pada akhirnya dapat berdampak buruk, baik pada kehidupan sosial maupun perekonomian. Ngeri kan pak kalau sampai terjadi banyak kejahatan atau bisa jadi terjadi kerusuhan akibat lockdown.

Pak…, apa bapak tak melihat ketika bapak dirawat, betapa beratnya tugas yang diemban paramedis baik dokter maupun perawat. Baik yang merawat Bapak maupun yang merawat pasien-pasien lainnya yang positif terpapar covid-19? Mereka harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Mulai dari baju hazmat, masker, penutup kepala, sarung tangan, penutup wajah bahkan sepatu boot. Tak dapat makan atau minum hingga harus menahan lapar dan haus, menahan hasratnya untuk buang air kecil maupun besar. Pokoknya susah banget deh pak.

Pak Menhub Budi Karya…,

Setelah Bapak sehat, Bapak kembali ke rumah, bertemu dengan keluarga Bapak, kemudian mulai beraktivitas lagi sebagai Menteri Perhubungan (Menhub), saya kok melihat ada banyak perubahan dalam diri Bapak. Bapak seolah asing dengan pekerjaan Bapak sebagai Menhub. Padahal pak Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menhub ad-interim sudah dengan susah payah untuk menghentikan sementara transportasi massal jarak jauh, dan jika ada yang beroperasi, ada ketentuan dan pemberlakuan khusus, agar virus corona tidak menyebar kemana-mana, memutus mata rantai penyebarannya, bahkan di setiap perbatasan daerah didirikan check point. TNI dan POLRI bersiaga penuh untuk memeriksa kendaraan yang berpotensi untuk pulang kampung. Bahkan pada awal diberlakukannya PSBB tuh pak, lebih dari 1.600 kendaraan disuruh putar balik. Mereka tak dizinkan untuk pulang kampung. Eh kok ya Bapak dengan gampangnya memberikan kelonggaran dan membuka kembali penerbangan setelah bapak bekerja kembali.

Antrian di Bandara Soetta, tak ada physical distancing sama sekali
Berdesak-desakan.

Bapak Menhub Budi Karya…,

Bapak lihat kan foto-foto di atas? Itu beneran terjadi loh pak. Kejadiannya hari kamis 14 Mei 2020. Bukan rekayasa, bukan pula hasil editan. Dan setelah foto-foto itu beredar di jagad maya, bayak orang yang mengecam kejadian itu, semua berfikir sama “Kapan selesainya pandemi covid-19 kalo seperti ini…?”

Meskipun pada akhirnya sehari kemudian dilakukan physical distancing, dilakukan pengecekan kesehatan, tetap saja tak membuat masyarakat tetap di rumah aja pak. Mereka tetap nekad untuk melakukan perjanan, tetap nekad berpergian. Miris saya melihatnya.

Bapak Menhub Budi Karya…,

Bapak juga pasti tak mengetahui kan kalo kemudian di laman e-commerce muncul perdagangan surat bebas covid-19?

Memang sih tak terlalu mahal, tapi apakah berbekal surat keterangan palsu ini akan menjamin orang-orang yang memiliki surat ini mendadak benar-benar bebas dari virus covid-19? Belum tentu juga kan pak.

Coba Bapak memiliki sedikit empati, terutama pada semua paramedis dan relawan. Hingga tak menimbulkan rasa putus asa semua paramedis dan relawan, yang merasa pekerjaan yang dilakukannya menjadi sia-sia. Dengan Bapak memberlakukan pelonggaran transportasi itu sama dengan Bapak tak ada empati.

Bahkan dokter Tirta yang juga relawan covid-19 pun mulai diserang rasa putus asa atas apa yang dilakukannya Pak. Semuanya ya imbas dari pelonggaran transportasi itu.

Bapak Menhub Budi Karya…,

Setelah adegan berdesak-desakan di Bandara Soetta, 40 orang dinyatakan postif covid-19 loh Pak, terus gimana dong Pak?

Bapak baru berencana melonggarkan penerbangan saja, secara tidak langsung sudah timbul efek yang lain. Bapak tahu kan McDonalds pertama di Indonesia yang ada di gedung Sarinah Thamrin? Banyak orang berkumpul disana hanya karena Mcd mau tutup untuk selamanya, tak ada social distancing, apalagi physical distancing, seolah-olah mereka tak takut dengan virus covid-19.

Kemudian setelah Bapak memberikan kelonggaran, lantas beberapa peminpin daerah berlomba-lomba ikut memberikan kelonggaran. Mereka bilang “Masyarakat butuh baju lebaran”. Padahal hakikat dari Idul Fitri itu sendiri kan bukan dari baju barunya pak, tapi dari kesempurnaan ibadah kita selama bulan Ramadhan.

Di Roxy, di Tanah Abang bahkan di Medan dan Pare-pare Sulawesi saja orang berjubel untuk beli baju lebaran sedemikian pentingnya kah? Berdasarkan info yang saya dapat, di Medan ternyata salah satu kasirnya positif terpapar virus covid-19, lalu bagaimana dengan pengunjungnya? Bisa-bisa jadi Orang Tanpa Gejala (OTG).

Antrian di pintu masuk Roxy mall.
Antrian di sebuah toko di Pare-pare Sulawesi.

Bapak Menhub Budi Karya…,

Karena pelonggaran yang bapak lakukan, ada efek lain yang bikin masyarakat yang sudah bosan mengikuti anjuran pemerintah untuk di rumah saja marah, karena seorang youtuber yang memiliki pengikut yang begitu banyak, berani menyepelekan pandemi ini, menyepelekan para tenaga medis. Dengan santai dia bilang enggan menggunakan masker, tak mau cuci tangan. Yang kemudian dibela oleh suaminya yang juga seorang youtuber dengan berbagai alasan hanya demi sebuah konten. Dan hal ini tentu saja  memancing kemarahan banyak orang dengan apa yang dikatannya.

Jika boleh berandai-andai nih Pak, seandainya semua para tenaga medis putus asa dengan apa yang telah mereka lakukan dan merasa sia-sia, lantas mereka minta cuti atau yang lebih ekstrem adalah mogok kerja, kemudian para relawan memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, lantas siapa yang akan merawat para pasien pak?

Pak Menhub Budi Karya…,

Pada bagian terakhir dari surat terbuka saya yang begitu panjang ini Pak, saya sedang berusaha membayangkan jika masyarakat masih saja ndablek kalo kata orang Jawa alias masih saja membandel tak mau taat aturan dengan PSBB, apa yang akan terjadi jika PSBB berakhir pada 4 Juni 2020 mendatang? Sedangkan yang saya tahu, terpapar virus corona itu tak masuk dalam pertanggungannya di BPJS. Dan andai tak dijamin oleh pemerintah seperti sekarang, berapa besar biaya yang harus mereka keluarkan? Pasti mencapai ratusan juta rupiah.

Ya sudah lah Pak, capek saya memikirkan kekerasan hati sebagian besar masyarakat yang tak mau nurut dengan aturan pemerintah. Mungkin kalau itu dilakukan oleh anak-anak, bisa dengan mudah dijewer, lha ini orang-orang yang sudah dewasa. Terus bagaimana dengan Bapak? Tak belajarkah Bapak dari negara-negara lain dan belajar dari covid-19 yang sudah memapari Bapak. Hanya Bapak dan Tuhan yang tahu.

• RINA •

Seseorang yang doyan makan tapi bisa masak. Suka baca dan sedang belajar jadi penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here