Pasar Papringan Ngadiprono Spedagi, Konservasi Hutan Bambu Berbalut Kearifan Lokal

0
426
Foto-foto: Margaretha Diana

Berbicara tentanng Kabupaten Temanggung, memang tidak pernah jauh dari yang namanya pesona alam. Ya, sebagai kabupaten yang terletak di dataran tinggi Jawa Tengah ini memang sarat dengan pesona keindahan alamnya. Mulai dari indahnya Gunung Sindoro dan Sumbing, mata air Jumprit, dan gugusan pegunungan lainnya yang bisa dinikmati dari Temanggung.

Beberapa tahun terakhir ini, obyek wisata dengan basis kearifan lokal, memang sedang gencar-gencarnya dipromosikan di beberapa daerah. Masyarakat diajak untuk kembali mengingat budaya sendiri, tidak hanya melulu terpesona dengan budaya negara lain. Dan salah satunya adalah wisata Pasar Tiban yang berada di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulya, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Menurut cerita salah seorang warga setempat, adalah seorang warga desa yang bernama Imam Abdul Rofik, yang juga merupakan ketua Komunitas Mata Air, yang mempunyai ide untuk membuka lahan di rerimbunan pohon bambu, atau yang dalam bahasa Jawa lebih dikenal dengan nama ‘pring.’ Ide tersebut, awalnya memang terinspirasi dari Pasar Papringan yang telah ada sebelumnya di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan. Lahan, atau hutan kecil tersebut, awalnya memang bukan hanya tidak tertata, kotor, menjadi sarang nyamuk, juga agak angker. Lahan tersebut ditata, dibersihkan bersama-sama warga lainnya secara gotong royong, hingga tercipta lingkungan yang tak hanya rapi, tapi juga asri.

Lingkungan tersebut, kemudian, dibuat menjadi lokasi pasar tiban. Alasannya tidak hanya memanfaatkan lahan tapi juga mengangkat lagi budaya serta kearifan lokal, seperti makanan khas daerah yang sekarang sudah mulai jarang ditemui, hasil kriya serta kerajinan khas warga setempat, memperkenalkan pula permainan-permainan rakyat tanpa gadget yang jarang diketahui anak-anak sekarang, serta alasan yang utama adalah memberdayakan para ibu, para perempuan Desa Ngadiprono yang awalnya hanya bekerja sebagai buruh tani, ataupun ibu rumah tangga biasa tanpa pekerjaan.

Pasar papringan Ngadiprono sendiri benar-benar mengangkat kearifan lokal sebagai dagangan utamanya. Mulai dari mata uang yang dipergunakan untuk transaksi, kita tidak bisa bertransaksi dengan uang biasa, melainkan harus menukarnya dengan ‘pring’ atau koin-koin dari bambu yang disediakan. Satu pring (koin dari bambu yang dipakai) bernilai Rp2000,00.

Makanan khas daerah yang dijual di pasar ini antara lain adalah nasi jagung, jejamuan, aneka dawet, gethuk, bajingan, combro, lentho dan lain sebagainya. Salah satunya yang paling khas yaitu nglemeng, merupakan campuran ubi dan gula merah yang dimasukkan dalam batang bambu, yang kemudian dimasak dengan cara dibakar.

Belum lagi adanya arena bermain anak guna mencoba berbagai permainan yang sudah jarang diketahui anak-anak sekarang seperti egrang, truk-trukan yang terbuat dari bambu serta kayu, mobil-mobilan. Serta berbagai perlengkapan rumah tangga yang berasal dari hasil kerajinan kriya warga setempat seperti poci, gelas bambu, cangkir batok dan lain sebagainya.

Total area pasar papringan sendiri, kurang lebih seluas 2.500 meter persegi, yang diisi oleh 42 lapak pedagang, warga setempat, yang sebagian besar para perempuan. Meski pasar ini hanya dibuka setiap hari Minggu Wage serta Minggu Pon saja, para perempuan di dusun ini merasa bersyukur dengan adanya pasar papringan tersebut. Karena dengan adanya Pasar Papringan Ngadiprono, selain mereka bisa memamerkan keahlian memasak mereka, sekaligus mendapatkan uang sebagai penghasilan tambahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here