Skip to main content
Categories
Gaya HidupHeadlineKehidupanKemanusiaanMedia SosialNusantaraSosialWoman Talks

Peluk Aku, Sebuah Aksi Yang Tak Perlu

Tiga minggu terakhir ini, kondisi masyarakat kita memang masih berselimutkan duka, juga rasa cemas yang lebih dibanding biasanya. Pasalnya, lepas kejadian rusuh di Lapas Mako Brimob yang menelan korban jiwa, masyarakat kita kembali dikejutkan oleh teror bom yang diledakkan oleh para ‘pengantin’ di beberapa titik, yang juga menelan korban jiwa tak sedikit.

Suasana kondusif yang terbangun menjelang bulan ramadhan pun terkoyak. Apalagi para pelaku terror, terang-terang membawa atribut keagamaan dalam melakukan aksinya. Mereka bahkan mengklaim, apa yang mereka lakukan adalah kebenaran menurut agama yang mereka anut. Sebuah pembenaran bertopeng agama, untuk melepas diri dari tuduhan sesat.

Atribut keagamaan yang mereka bawa, adalah atribut agama Islam. Hal ini terang saja mengundang banyak polemik, apalagi di kasus terakhir, target sasaran adalah gereja-gereja yang tengah melaksanakan ibadah mingguannya dengan tenang seperti biasa. Jelas ini menimbulkan friksi yang tak kecil, karena tujuan para pelaku terror, centang perentang dapat dilihat, membenturkan dua kelompok penganut agama.

Tentu saja banyak penyangkalan dari banyak pihak. Bahwa para pelaku terror adalah bukan orang muslim, tak beragama Islam. Lah, di sinilah letak kekeliruan masyarakat kita. Penyangkalan semacam ini, tak berguna sama sekalli, justru seperti menutupi borok yang sudah jelas-jelas kelihatan wujud, bentuk serta baunya.

Seharusnya masyarakat kita harus lebih legowo dalam menerima kenyataan pahit ini. Ya, ada memang sebagian dari kita yang tersesat dalam memahami timbangan kebenaran dalam kepalanya. Seharusnya kita lebih fokus kepada tindakan para pelaku terror, bukan pada agamanya, bukan pada keyakinannya, tapi pada apa yang telah dilakukannya.

Dan lucunya, ditengah gelombang penyangkalan yang tak kunjung henti tersebut, ada sebagian kaum muslimah yang mengenakan cadar, merasa sebagai pihak tertuduh dalam aksi terror tersebut. Bukankah aneh, jika memang para pelaku terror ini bukan orang muslim, mengapa para perempuan bercadar ini merasa tertuduh sebagai bagian dari mereka, para pelaku terror yang juga banyak mengenakan cadar sebagai identitasnya?

Tak tanggung-tanggung, para perempuan ini justru melakukan sebuah aksi, yang menurut saya hanya wasting time alias tak perlu. Mereka melakukan aksi damai dengan membawa poster bertuliskan “Peluk Aku”, yang intinya mengajak para perempuan untuk memeluk mereka, jika percaya bahwa mereka bukan bagian dari para pelaku terror. Jujur hal ini justru meninggalkan tanda tanya besar, buat apa?

Bukankah ini hanya menambah daftar panjang kekonyolan saja? Maaf, buat saya, aksi tersebut konyol, juga seolah hanya mencari panggung saja di tengah suasana duka.

Bukan, bukan berarti saya anti terhadap para perempuan bercadar, bukan seperti itu. Jika mereka dilarang menggunakan cadar sebagai pilihan pribadinya, jelas saya akan berdiri di sebelah mereka, sebagaimana yang terjadi di kasus UIN Suka, Yogyakarta, bulan-bulan kemarin. Tapi jika mereka playing victim dengan merasa sebagai korban para pelaku teror, ya nanti dulu, ini lain acara.

Ya, ini adalah efek domino dari kejadian teror bom kemarin. Tapi kenapa mereka melakukan aksi ’Peluk Aku’, alih-alih bisa melakukan aksi lain yang lebih simpatik, misalnya mengadakan doa bersama untuk para korban teror bom, donasi, dan lain sebagainya sebagai penegasan bahwa mereka sendiri mengutuk perbuatan para pelaku teror, dan mereka bukanlah bagian dari para teroris, titik.

Toh korban teror bom juga tak semuanya adalah orang Kristiani. Ada banyak warga muslim yang menjadi korban teror bom. Se-simple itu kan bisa, timbang membuat aksi ’Peluk Aku’ yang seolah menggambarkan bahwa mereka hanya sibuk memikirkan kepentingannya sendiri, timbang memikirkan perasaan sesama kaum muslim, yang juga menjadi korban para pelaku teror.

Perempuan, seharusnya lebih punya empati terhadap sesamanya, karena perempuan lebih sering berbiacara tentang rasa. Sudahlah sudah, sudahilah aksi ’Peluk Aku’ yang tak perlu itu, toh saya rasa sebenarnya banyak juga yang tak nyaman dan terpaksa melakukan aksi tersebut. Kita bicara budaya berpelukan, yang juga memang tak lazim di masyarakat kita, meski dilakukan oleh sesama perempuan.

Mulailah melihat dari sisi kacamata yang lain, jangan terus-terusan melihat tentang apa yang kita butuhkan, tapi melihat juga, apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan bersama. Jika memang ingin menunjukkan pada dunia bahwa kalian bukan bagian dari teroris, mulailah dengan menghilangkan kebiasaan denial (penyangkalan) bahwa para pelaku teror itu tak beragama, lalu tunjukanlah sikap yang jelas, dengan mengeluarkan pernyataan atau urun tangan terhadap para korban, serta menjaga lingkungan dari ajaran-ajaran radikal. Itu semua, jauh lebih berguna, dan lebih terhormat, timbang aksi mengemis pelukan.

Karena pada dasarnya, para pelaku teror memang terang-terangan menunjukkan bahwa mereka beragama, tapi di sini yang salah bukanlah agamanya, melainkan perilaku mereka, yang tak mampu memahami ajaran agamanya. Ibaratnya, dalam sekarung jeruk, pasti ada 1-2 buah jeruk yang busuk, apa iya, kemudian kita menyebut buah-buah yang busuk itu bukan buah jeruk, tapi buah apel? Engga to?

Perempuan, bukanlah mahluk lemah, dan gerakan pelukan, bukanlah sebuah solusi, bagi masalah kerusakan moral.

Web kolaboratif, konten adalah tanggung jawab penulis (Redaksi)

Subscribe our newsletter?

Join Newsletter atau Hubungi Kami: [email protected]

Inspirasi
BelanjaKarirKecantikanKehidupanKeluargaIndeks
Let's be friends