Perempuan dengan Gelar Sarjana Ini Memilih Tetap Menjadi Supir Taksi

0
313

“Saya memang gak suka kerja di kantoran… Malah saya pernah nyupir truk barang dan nyupir bus antar kota antar propinsi di Sumatera,” ujar perempuan berusia sekitar 40-an dari balik kemudi taksi yang ia kendarai.

Malam itu, saya sebagai penumpangnya, sekadar mengajak ngobrol seorang perempuan yang menyupiri saya dengan taksinya.

Sebut saja namanya Ana, sudah belasan tahun pekerjaan “mengukur jalanan” ia lakoni. Ana bukan tidak mampu bekerja dengan intelektualitas yang ia dapatkan dari gelar sarjananya. Tapi nalurinya memang ada ‘di jalanan.’

Memang pekerjaan ini juga terdorong oleh keterpaksaannya sebagai orang tua tunggal, yang harus menghidupi anaknya dan sekaligus menjadi ibu yang mengasuh dan mendidik anaknya.

Suami Ana telah meninggal lebih dari 10 tahun lalu. Sejak itu ia tidak mencari suami lagi untuk dirinya. Ia lebih fokus untuk melanjutkan hidup dengan 1 anaknya saja.

Tidak sekali 2 kali ada penumpang laki-laki yang mengarah pada pembicaraan menjurus ke arah pelecehan seksual secara verbal. Ana mengahadapi hal tersebut sudah biasa dan dia bisa lebih galak dari laki-laki dan bahkan berani menurunkan penumpang kurang ajar tersebut di tengah jalan.

Ketika saya tanyakan bagaimana dengan kondisi persaingan antar moda transportasi sekarang ini, dengan adanya aplikasi on line, Ana enteng menjawabnya.

“Tuhan tidak akan pernah membiarkan makhluknya berada dalam kesusahan. Kita hanya harus menjemput rejeki tersebut. Kita tidak tau, dari balik ‘pintu’ yang mana rejeki itu. Kita hanya harus terus ‘mengetuk dan membuka’ tiap pintu yang ada di depan kita.”

Pandangan mata saya melihat kemacetan di depan yang kerap membuat stress berada di tengah-tengahnya, menjadi agak kabur setelah mendengar jawabannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here