Endek menjadi trend 2020, kenapa tidak?

Bali yang dikenal karena keindahan budaya dan adat istiadatnya ternyata memiliki harta terindah, yaitu tenun Bali yang masing masing memiliki keunikan dan ciri khas. Terutama di pasar seni Semarapura, Klungkung, banyak ditemui berbagai macam tenun  seperti endek, songket, dan rangrang.

Endek yang berkembang sejak tahun 1975 di masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel Klungkung, memiliki motif unik dan sakral dimana beberapa proses pembuatannya masih melalui upacara sakral dan doa kepadaYang Maha Kuasa. Upaya agar Endek dapat diterima oleh masyarakat luas adalah melalui fashion yang merupakan salah satu mata rantai perekonomian yang terus berkembang cepat. Bali sebagai salah satu destinasi utama bagi pencinta fashion, tidak saja seni, kekuatan kehidupan tradisional masyarakat dan kegiatannya menjadi inpirasi kuat bagi pekerja kreatif.

Melalui fashion show yang digelar pada Sabtu, 21 Desember 2019 bertepatan dengan peresmian Pasar Seni Semarapura Blok A oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Ny Putri Suastini Koster, hadir pula Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Klungkung Ny Ayu Suwirta, Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Klungkung Ny Sri Kasta, Ketua DPRD Kabupaten Klungkung Anak Agung Gde Anom, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Provinsi Bali, I Gede Indra. Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, menghadirkan 8 fashion designer kenamaan Bali yang berhasil mengisyaratkan pesan bahwa Endek akan menjadi trend 2020.

Merdi Sihombing yang diketahui merupakan perancang busana yang telah lama mempelajari proses pembuatan kain tenun khas Klungkung membuka acara dengan menampilkan busana contemporer ready to wear.

Melalui Wastra Bali – Anggasari membawa kita menyusuri Napak Pertiwi, menyuguhkan sosok khas perempuan Bali mengenakan kamen endek dengan nilai spiritual mendoakan keselamatan bumi pertiwi dan alam semesta, gaya eksotik dramatik yang sangat memukau.

Designer muda pendatang baru Kirana Shasi – Srikonta Wastra cukup berhasil menunjukkan karyanya melalui Etnik Golden Du Jour Lalisa, lewat desain K-pop nya. Lalu Lady Athalia dengan Ekletik Endek Gringsing, seharusnya bisa membuat remaja untuk mulai melek mata menggunakan endek.

Riesna – Dedari Bali Kebaya, dengan Agya Sukma Yowana, busana ready to wear melambangkan perempuan optimis dan kuat menggapai mimpi dengan bahagia, dan enerjik.

Keseluruhan designer memiliki kemampuan luar biasa untuk mempertahankan penggunaan endek, millenial modern tetapi tetap menjunjung adat istiadat. Keterpesonaan designer yang juga pemilik kerajinan tenun, Ayu Dewi – Jegeg Bagus Butik melalui Asmaranala, mewujudkan pesona tenun ikat jepun bali, cantik , memikat.

Designer Jung Sas – Vinaya Boutique mampu merebut perhatian dengan Mirah “Menawa Ratna”. Permata indah dengan 9 warna memancar, sarana dalam salah satu upacara Dewa Yadnya di Bali , teraktualisasi pada evening gown yang sangat anggun.

Penutup oleh designer Rico Anantha – Anantha Couture , melalui Rangkai Garis Seseh membuat saya kagum dan berdecak WOW akan  warna dan cocktail dressnya yang chic.

Di mata saya, para designer mampu membuktikan bahwa endek tidak hanya dikenakan untuk kegiatan tradisional dan upacara saja, tetapi  kreativitas mereka berhasil menunjukkan bahwa endek bisa menjadi busana casual, resort, cocktail hingga avant garde.

Dengan bersatunya designer lokal, tentunya Endek akan terus bangkit dan kembali meraih kejayaannya. Endek menjadi trend 2020, why not!

Dan saya teringat akan pesan yang disampaikan oleh Ny Putri Suastini Koster, “wastra Bali ditenun dengan  jiwa-jiwa yang ikhlas”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here