Punya Gaya tapi Tak Punya Muka

0
162
pixabay

Waktu masih sekolah saya mendengar curhat dari teman bahwa dirinya baru saja putus dari pacarnya lantaran pacarnya itu kepergok oleh dirinya sedang ngemal bareng om-om. Kronologinya, si pacar berbohong ingin pergi acara keluarga. Teman saya yang ternyata sudah sering merasa dibohongi, mengikuti si pacar diam-diam. Sejak melihat sang pacar berbelok ke arah mal sebenarnya dia sudah menyuruh diri sendiri untuk tidak mengikuti lebih jauh karena firasatnya buruk, tidak ingin melihat yang lebih aneh dari ini.

Mengikuti rasa penasaran, teman saya akhirnya ikut masuk mal. Karena si cewek pakai mobil sementara teman saya naik motor, parkir jadi terpisah dan teman saya ini berkeliling mal untuk mencari sang pacar yang terpencar. Di restoran cepat saji, teman saya melihat pacarnya bersama pria usia sekitar 50-an sedang makan bersama.

Gosip-gosip yang selama ini menyebar di lingkungan sekolah mendadak terngiang kembali di telinganya. Merasa marah, teman saya ini melabrak. Hampir adu jotos dengan si Om—yang menurut saya pasti menang teman saya karena si Om ini bertubuh tambun.

Teganya sang pacar yang kemudian lebih membela si Om daripada teman saya. Sang pacar mengajak si Om pergi meninggalkan restoran. Teman saya mengikuti terus hingga akhirnya berhasil meloloskan diri.

Hingga berapa hari kemudian teman saya terus menanti penjelasan. Namun yang didapatnya justru sebuah pengakuan dari sang pacar. Benar dirinya adalah ‘simpanan’dan bukan cuma satu om yang digaetnya, banyak om-om lain yang memelihara dirinya.

Di sekolah memang si cewek ini terbilang paling cantik. Rambutnya tertata hasil salon, tas dan sepatunya memiliki merek. Akun sosial medianya (Facebook, saat itu) penuh dengan postingan mengunjungi teman-teman mewah, foto di apartemen dan mobil miliknya. Beberapa tahun berikutnya postingan-postingan tersebut semakin mengundang sensasi dengan hadirnya foto-foto dirinya bersama anak tapi tak pernah terlihat foto bersama sang suami.

Selain dia, masih banyak juga teman di sekitar saya yang terlibat pergaulan semacam itu. Eits, saya juga pernah ditawari lho! “Nit, ikut main yuk ntar? Nyari duit. Gue kenalin nanti sama seseorang.”

Mari garis bawahi ‘nyari duit’. Ya, kebanyakan dari mereka adalah yang berasal dari kalangan ekonomi bawah. Membutuhkan uang untuk bergaya ngehits. Namun, tak sedikit juga yang mencari ‘om’ untuk benar-benar bergantung hidup padanya sebagai pelarian hidup—kabur dari rumah dan tidak tahu harus bagaimana. Untuk yang terakhir, saya kenal satu orang. Dihamili pacarnya dan tak berani minta tanggung jawab apalagi bilang ke ortu hingga akhirnya kabur dari rumah dan menikah siri dengan om-om.

Tulisan ini hadir sama sekali untuk merendahkan kita sebagai perempuan, sungguh bukan itu maksud saya. Tulisan ini lahir karena rasa miris saya melihat betapa mudah harga diri melayang. Untuk apa sih hidup demi  memikirkan pengakuan orang lain? Punya gaya tapi tidak punya muka.

Dear perempuan, penyesalan selalu datang belakangan. Salah seorang kenalan saya sekarang hidupnya luntang-lantung karena si Om mati kena penyakit tua. Jangankan meminta sebagian harta, untuk masuk kamar mayat demi melihat untuk yang terakhir kali saja tidak berani. Menguaplah semua ucapan dan janji manis si Om untuk membagi harta ketika dia mati. Pilihan terakhir? Cari om lagi!

Memang tidak ingin punya keluarga yang normal? Menikah dengan cinta, menikah dengan wajar. Jadilah wanita tangguh yang berani hadapi pahit kehidupan, bukan maunya yang manis-manis dan instan saja.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here