Skip to main content
Categories
BahasaBeritaBudayaHeadlineHer StoryHobbyMenulisNasionalPendidikan

Sapardi Djoko Damono: Penulis Harus Merendahkan Dirinya untuk Hasilkan Sastra Tinggi

Rani Takahashi

“Pak, ini ada penulis Indonesia dari Jepang,” begitu kata editorku ketika memperkenalkanku kepada Pak Sapardi Djoko Damono. Aku malu banget dibuatnya, karena bukuku baru satu waktu itu.

Pak Sapardi yang sudah ditunggu beberapa wartawan di acara launching bukunya menunda wawancaranya dan mengajakku ngobrol. Beliau bercerita tentang perjalanannya di Jepang dan bertanya tentang kehidupanku di sana.

Ketika beliau bertanya apa minat saya dalam menulis, saya tersentak. “Saya hanya mendokumentasikan kehidupan keseharian saja Pak. Saya bukan seorang sastrawan.”

Lalu beliau berkata, “Sastrawan itu menulis tentang keseharian, hanya mereka membungkusnya dengan elegan.”

Aku tersentak lagi. “Ya, tapi saya cuma reporter saja kok Pak. Dan dengan sedikit keberuntungan Gramedia bersedia membukukannya.” Tak disangka beliau menjawab, “Seorang penulis memang harus merendahkan dirinya sehingga dia mampu menulis sastra yang tinggi.”

Aku masih ingat dengan tatapannya yang teduh tapi serasa menelanjangiku. “Teruslah menulis. You are a traveller.”

Aku hanya menunduk-nunduk dan berusaha menghindar dari “pressure” untuk menulis. “Haha! kamu sudah seperti orang Jepang. Ayo main ke rumah kapan ada waktu.” Saya menunduk-nunduk lagi.

Sedikit pun tidak terbesit untuk main ke rumah beliau. Siapalah saya berani-beraninya melancong ke rumah seorang sastrawan ternama. Padahal alasan sesungguhnya adalah; saya tak ingin berkomitment untuk terus menulis dan “takut ditagih tulisan berikutnya”.

Sekarang, saya menyesal….

Selamat Jalan Sastrawan Indonesia…
Terima kasih…
Engkau boleh pergi tetapi tulisanmu tinggal sepanjang masa…�¡�Ú�Ÿ

Share this with your friends

Subscribe our newsletter?

Join Newsletter atau Hubungi Kami: contact@aksaradigital.id

Inspirasi
BelanjaKarirKecantikanKehidupanKeluargaIndeks
Let's be friends