Stop Jadi Teman Curhat Menyebalkan

0
359

 

“Kenapa lo? Kok kusut amat?” tanya seorang teman.

“Mama masuk RS. Lusa operasi. Mana gue masih galau habis putus….”

“Ya ampun. Sabar ya. Ibu gue juga baru meninggal dua bulan lalu. Sakit juga sebelumnya. Terus, gue juga baru putus. Si Doi selingkuh, Cyin. Gila ya… Nyesek banget…. Tega-teganya dia ngeduain gue…. Padahal gue udah sayang banget sehidup semati….”

Pernah mengalami kondisi mirip di atas? Di mana saat kita curhat, ternyata teman yang dicurhatin malah balik curhat dengan kisah yang jauh lebih ngenes dari yang kita alami.

Atau malah sebaliknya? Justru kita sendiri lah yang lebih sering berada di posisi si teman?

Satu kelemahan perempuan yang sering muncul tanpa disadari adalah, betapa seringnya kita –kaum perempuan– mengalihkan topik pembicaraan ke diri sendiri. Saat ada yang curhat, bukannya berempati atau menunjukkan simpati, kaum perempuan justru semangat membalasnya dengan cerita serupa yang dialami sendiri.

Sebegitu inginnya kita diperhatikan, sehingga fokus pembicaraan harus tertuju pada kita. Kita ingin hanya cerita kita yang didengar. Bahkan, tak jarang kita menambahkan bumbu sana-sini yang membuat kisah kita terdengar lebih wow dan lebih nelangsa dibanding curhatan teman kita.

Sadarkah kita, bahwa sesungguhnya sifat seperti ini benar-benar menyebalkan?

Sadarkah kita, bahwa hal yang kelihatannya sepele ini bisa berakibat fatal untuk kelangsungan ikatan pertemanan?

Sekali, dua kali, tiga kali mungkin teman bisa memaklumi. Tapi lama-lama, siapapun juga bakal malas mengobrol dengan kita. Tidak usah heran jika suatu saat nanti kita benar-benar tak berteman lantaran semua orang menganggap kita pribadi yang nyebelin.

Tapi tidak usah khawatir. Hal semacam itu bisa dihindari kok. Tidak sulit juga dilakukan selama kita memang punya niat untuk stop jadi teman curhat yang menyebalkan.

Yang harus selalu diingat, ketika kita berada di posisi pendengar, maka jangan sekali-kali tergoda untuk menjadikan diri kita sebagai fokus pembicaraan. Dari pada asyik membandingkan tingkat kengenesan penderitaan antara diri sendiri dan lawan bicara kita, lebih baik menanggapinya dengan :

“Serius lo?”

“Kok bisa, sih?”

“Terus, terus?”

“Masa?”

“Hmmm…”

“Ya ampun …”

Tanggapan seperti itu akan menunjukkan bahwa kita benar-benar menaruh perhatian terkait masalah teman kita. Selain itu, tentunya akan lebih memberi efek menenangkan dibanding menimpalinya dengan masalah kita sendiri.

Selain itu, tidak ada salahnya juga kita meniru tokoh-tokoh psikolog dalam novel atau film yang kerap melontarkan pertanyaan seperti ;

“Jadi perasaan lo gimana sekarang?”

“Lo sendiri pengennya gimana?”

“Kemarin-kemarin udah pernah kaya gini juga?”

dan sebagainya.

Dengan menunjukkan perhatian sederhana semacam itu, kita sudah membangun kedekatan emosional yang membuat lawan bicara kita nyaman. Kita akan dikenal sebagai pribadi hangat dan menyenangkan.

Bukan berarti kita tidak curhat masalah kita sendiri. Tapi perhatikanlah momennya. Yah, bahasa gampangnya… Bersabarlah. Tunggu giliran. Jangan sekali-kali menimpali curhatan orang lain dengan curhatanmu sendiri. Percayalah, itu akan menjadikan dirimu pribadi yang jauh lebih menyenangkan.

(Arako)⁠⁠⁠⁠

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here