Sumbang Baju Bisa Selamatkan Bumi? Ini Kata Andien

0
238
Andien saat menjelaskan mengenai Yayasan Setali. Foto: dok. Elrica Alfreda

Kepentingan akan penampilan dan trend fashion yang terus berubah mengikuti 4 musim pasti seringkali mempengaruhi kita untuk terus membeli pakaian baru, padahal jumlah pakaian di rumah pasti sudah banyak dan menumpuk di lemari.

Pakaian yang menumpuk di lemari pastinya akan membuat kita kesulitan untuk memilih pakaian, sampai akhirnya terlintaslah pikiran dan tekad untuk membuang beberapa pakaian yang menumpuk ini ke tempat sampah. Pakaian pun akhirnya terbuang sia-sia, tercampur dengan jenis sampah lain, dan tertumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Akan tetapi, tahukah kamu tentang fakta dari industri fashion yang ternyata merupakan penyumbang limbah ke-2 tertinggi di dunia setelah industri minyak yang dapat mencemari air dan lingkungan. Selain itu, industri fashion juga menghasilkan emisi gas yang lebih merusak dibanding dengan gabungan industri pelayaran dan penerbangan yang dapat  meningkatkan efek global warming.

Semua itu disebabkan oleh kecepatan produksi baju  di dunia yang membuat polusi dan kerusakan lingkungan semakin menjadi.

Pesan itulah yang hendak disampaikan oleh Setali Indonesia, yayasan yang menyediakan platform untuk mendukung fashion sustainability yaitu fashion berkelanjutan yang diprakarsai oleh artis Andien Aisyah dan ke 9 orang tim intinya.

“Setali merupakan yayasan yang fokus untuk mengumpulkan baju untuk dijual, berdonasi dan juga menjadi solusi dari limbah fashion yang makin menjadi,” ujar Andien di acara Folkaland, Minggu, 3 November 2019.

Dengan menyumbangkan pakaian layak pakai, berarti kita turut berkontribusi untuk
menyelamatkan bumi dari bahaya limbah fashion yang semakin berkembang dan juga telah berdonasi untuk membantu orang yang lebih membutuhkan.

“Pakaian yang dikumpulkan nantinya akan dijual kembali melalui online maupun offline seperti bazar dan hasil keuntungannya akan disumbangkan ke beberapa yayasan yang menjadi partner dari Setali,” tutur Andien.

Dalam satu bulan Setali dapat menerima 14.000 baju yang sudah tidak terpakai, akan tetapi hanya sedikit yang lulus pengecekan. “Kira-kira hanya 10-20% yang lulus QC (Quality Control) dan sisanya reject seperti kotor, rusak, sobek dan luntur, dimana ini termasuk limbah industri fashion yang masih menjadi PR bagi Setali,” lanjut Andien.

Cara yang pernah Setali lakukan untuk memperpanjang usia pakaian tersebut adalah dengan meng-upcycle (mengubah barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang lebih berguna) pakaian yang rusak menjadi barang baru seperti tote bag, bucket hat, dan patch untuk celana jeans.

Selain dengan menyumbangkan dan meng-upcycle pakaian, untuk mencegah penumpukan sampah pakaian, kita juga dapat menerapkan pola berpakaian seperti dengan meminjam, menyewa, decluttering (memilah barang sesuai dengan kebutuhan), dan membeli pakaian secondhand (pakaian bekas yang masih layak pakai).

Maka dari itu, marilah kita bijak dalam membeli pakaian dan turut memperpanjang usia pakaian kita untuk menyelamatkan bumi ini.

Elrica Alfreda

Penulis adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here