Susi Pudjiastuti, Dibutuhkan Kegilaan untuk Menantang Beijing

2
2502
Susi Pudjiastuti. Photo by Kemal Jufri for New York Times.

Susi Pudjiastuti sedang menjumput makanan dengan satu tangan, menggunakan ibu jari dan dua jari untuk melepaskan tulang dari sepotong ikan. Lalu dia memperagakan sedang menginjak dan menindas sesuatu ke lantai dengan stiletto (sepatu berhak tinggi) yang ia kenakan. “Ini yang akan saya lakukan jika orang Cina mencoba mempermainkan saya,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

“Saya bisa tersenyum dengan sangat baik dan kemudian saya bisa menggunakan high heels saya (untuk menginjak).” “Sangat tajam,” tambahnya, sambil memasukkan potongan ikan ke mulutnya.

Cukuplah untuk mengatakan bahwa Susi Pudjiastuti bukanlah perempuan Indonesia konvensional, terlebih ia seorang menteri. Dia berantai merokok, meskipun menteri kesehatan Indonesia – satu dari delapan wanita di kabinet Presiden Joko Widodo – telah memperingatkannya bahwa seorang tokoh masyarakat tidak boleh terlihat sedang menyulut rokok.

“Keluarga saya menganggap saya sedikit gila,” katanya.

Mungkin dibutuhkan sedikit kegilaan untuk menantang Beijing, mengejar kapal penangkap ikan Tiongkok di perairan Indonesia. Dia telah menciptakan banyak musuh di sepanjang jalan, di rumah maupun di luar negeri, tetapi dia mengatakan kesuksesannya dapat diukur dengan peningkatan kesehatan daerah penangkapan ikan di Indonesia, dan dia tidak akan mundur.

Dengan lebih dari 13.000 pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, namun kedaulatan maritimnya telah lama diabaikan. Ketika ia ditunjuk pada tahun 2014, Susi Pudjiastuti, seorang pengusaha di bidang perikanan laut dan transportasi udara yang belum pernah lulus Sekolah Menengah Atas, dipercaya memegang kewenangan sebuah kementerian yang terancam dihilangkan. Namun dia telah mengubah portofolionya, menyatakan perang terhadap kapal-kapal nelayan asing yang telah merambah perairan teritorial Indonesia dan menyebabkan rusaknya lautan yang paling beraneka ragam di dunia.

Tidak semua pelanggar berasal dari China. Kapal dari negara-negara Asia Tenggara lainnya yang mencapai wilayh perairan Indonesia juga. PBB pernah melaporkan setidaknya $ 1 miliar per tahun sumber daya yang hilang. Menteri Susi tidak main-main, di bawah pengawasannya, ratusan kapal asing yang disita telah diledakkan.

“Saya bukan militer, saya bukan menteri luar negeri,” katanya. “Orang Cina tidak bisa benar-benar marah pada saya karena semua yang saya bicarakan adalah ikan.”

Sepak terjang Menteri Susi menyingkirkan 10.000 kapal nelayan asing yang pernah diburu di perairan Indonesia. Hasil perikanan Indonesia naik lebih dari dua kali lipat dari 2013 hingga 2017.

“Saya bahagia saat saya di laut,” ujar Susi menutup wawancaranya dengan New York Times.

2 KOMENTAR

  1. Tp knp harga ikan di ind bknnya turun malah naik 100%.harga ikan selar yg kecil2 itu dulu 20 rb an sekg.skrg 47rb.macam aman ini

  2. Karena ikan kecil itu kini dilarang ditangkap agar dia menhadi besar dan bisa menghasilkan mendapat yang lebih besar buat nelayan. Kalau yang kecil itu dibiarkan ditangkap maka lama kelamaan produksinya akan menurun dan nelayan juga yang akan rugi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here