Tak Ada Sekolah Menjadi Ibu

1
178
pixabay

Hubunganku dengan Mama tak selalu baik.

Ada kalanya Mama benar-benar membuatku geregetan setengah mati. Ada kalanya aku membuat Mama benar-benar kehabisan kesabaran.

Itulah sebabnya, ketika tumbuh dewasa aku selalu merasa Papa (yang notabene laki-laki) lebih bisa memahamiku daripada Mama (walaupun sama-sama perempuan).

Ketika putraku lahir, hubunganku dengan Mama tetap tak dekat. Aku merasa Mama terlalu mengatur caraku membesarkan anak, sementara Mama menganggap aku tak bisa apa-apa.

Puncaknya ketika suatu malam kami bertengkar, dalam kemarahanku, aku bilang, “Ini anakku Ma, aku akan besarkan dia seperti yang aku mau, bukan seperti Mama mau.”

Setelah kata-kata itu terucap, rumah mendadak hening. Mama kehilangan kata-kata. Aku sendiri terlalu kaget mendengar ucapanku sendiri sehingga cuma bisa terduduk di sofa. Tak pernah sebelumnya aku berkata sekeras itu pada Mama.

Malam itu justru jadi titik balik hubunganku dengan Mama. Kami mencapai “kesepakatan” yang dulu tak pernah berani kuimpikan. Mama tak lagi terlalu banyak berkomentar, khususnya tentang caraku membesarkan putraku. Aku sendiri jadi tertantang untuk membuktikan bahwa aku bisa, walaupun tidak menggunakan cara Mama.

Kami jadi lebih banyak berdiskusi, tak lagi bersitegang saling ngotot mempertahankan pendapat.

Sejak itu pelan-pelan aku menyadari, pada prinsipnya semua perempuan menjadi ibu dengan cara mereka sendiri. Aku tahu, tak ada sekolah menjadi orang tua, khususnya jadi ibu. Memang benar banyak media belajar yang tersedia, semisal buku-buku parenting, media online, seminar, dan lain-lain. Namun semua itu sifatnya umum, tak bisa menjawab kondisi spesifik dalam keluarga yang dihadapi setiap ibu sehari-hari. Pada akhirnya, setiap perempuan, setiap ibu, membuat pilihan-pilihannya sendiri, yang terbaik yang dia bisa, sesuai dengan situasi yang dihadapinya.

Aku tak tahu perjalanan hidup macam apa yang membentuk Mama jadi seperti sekarang ini. Teladan apa yang ditirunya dalam membesarkan anak. Untukku, dalam membesarkan anakku, aku mengambil apa yang menurutku baik dari Mama, dan aku tinggalkan yang jelek. Aku mengambil ketabahannya dalam menghadapi badai rumah tangga. Aku meniru ketegarannya dalam mengarungi hidup. Aku meneladani tekadnya untuk memberikan yang terbaik agar anak-anaknya menjadi yang terbaik.

Sebaliknya, aku minimalkan semua metode marah-marah yang hanya berujung pada sakit hati dan keengganan untuk patuh. Aku optimalkan usaha memberi teladan lewat perbuatan, tak sekedar nasihat panjang-lebar.

Apakah aku sudah jadi ibu yang baik untuk anakku? Tentu saja belum. Aku belum bisa memberikan keluarga yang utuh bagi anakku. Aku sering kelelahan ketika pulang kantor sehingga aku tak selalu bisa memantau kegiatannya. Aku sering belepotan dalam menjalani peran sebagai ibu sekaligus ayah baginya. Aku tak bisa memberinya masukan ‘dari sudut pandang laki-laki’ yang seringkali dibutuhkan anakku seraya ia tumbuh dewasa, karena aku perempuan. Aku tak bisa selalu memenuhi keinginannya karena penghasilanku yang terbatas.

Seperti Mama, aku juga berusaha menjadi ibu yang baik.

Seperti Mama, aku juga manusia biasa, bukan manusia setengah dewi.

Seperti Mama, aku juga takkan berhenti berusaha jadi ibu yang sebaik-baiknya untuk anakku.

Selamat Hari Ibu, Ma.

Selamat Hari Ibu untukku juga.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here