Tarian dari Aceh Ini Pukau Pengunjung Muscat Festival 2018

0
73
Foto: dok. Virgino Rikaryanto

Jumat malam itu (9/2/2018), suasana di sekitar panggung utama Naseem Garden tampak lebih riuh dari biasanya. Tepukan tangan, goyangan kepala, dan sesekali teriakan kekaguman dari penonton, mengiringi penampilan para penari Ratoe Jaroe, tarian asal Aceh yang kerap keliru disebut sebagai Tari Saman.

Kalau ini di Indonesia, mungkin kita bisa menganggapnya sesuatu yang lumrah. Namun suasana ini terjadi di Oman, negeri di Timur Tengah yang jaraknya sekitar 6000 km dari tanah air.

“Selama tiga pekan lebih, dari tanggal 18 Januari hingga 10 Februari 2018, Indonesia ikut memeriahkan pesta rakyat terbesar di Oman yang dikenal dengan nama Muscat Festival,” terang Virgino Rikaryanto,┬áSekretaris I Fungsi Pensosbud (Penerangan Sosial dan Budaya) KBRI Oman.

Lebih lanjut Virgino menjelaskan, “Acara yang konsepnya kurang lebih serupa dengan Pekan Raya Jakarta ini diselenggarakan di Naseem Garden, tidak jauh dari Istana Kesultanan Oman, Bait al Barakah. Indonesia menggelar paviliun yang menampilkan berbagai destinasi wisata, aneka kerajinan tangan khas Indonesia serta kopi yang berasal dari daerah Gayo, Aceh.”

Selain menggelar paviliun, Indonesia juga mementaskan berbagai ragam kesenian setiap akhir pekan, mulai dari Tari Rantak, Tari Selayang Pandang, Tari Marpangir, Tari Merak, Tari Piring hingga Tari Ratoe Jaroe. Gerakan yang atraktif dan kostum yang menarik membuat banyak pengunjung terpikat dengan kesenian dari berbagai penjuru nusantara tersebut. Setiap kali selesai beraksi di panggung, para penari langsung dikerumuni penonton untuk diminta berfoto bersama.

Di samping Indonesia, beberapa negara juga mengisi panggung hiburan di Muscat Festival, antara lain Rusia, Kazakhstan, India, Ukraina dan Ethiopia. Tidak bisa dipungkiri, dari sekian banyak penampilan yang dipentaskan, Tari Ratoeh Jaroe memiliki dayat pikat yang paling mampu menyihir penonton. Gerakan yang dinamis diiringi tabuhan gendang dan alunan syair khas Aceh membuat penonton tanpa sadar ikut bertepuk, bergoyang dan bernyanyi. Tidak henti-hentinya mereka memberikan aplaus kepada penari-penari Indonesia yang tampil di panggung utama.

Nassir Al Ghilani, Direktur Muscat Festival di Naseem Garden, menyampaikan kekagumannya atas penampilan para penari tersebut. Nassir semakin terkejut ketika mengetahui bahwa para penari itu bukan berasal dari grup kesenian yang didatangkan dari Indonesia, namun terdiri dari warga Indonesia yang sehari-harinya menetap di Muscat. Sambil tersenyum, Nassir berbisik bahwa penampilan mereka tidak kalah dengan kelompok-kelompok kesenian profesional lain yang diundang pada festival ini.

Soal dedikasi, para penari ini memang patut diacungi jempol. Di tengah-tengah kesibukan mereka bekerja atau mengatur rumah tangga, ’emak-emak’ Indonesia di Oman ini masih sempat meluangkan waktu berlatih siang dan malam menjelang pagelaran Muscat Festival. Karena keterbatasan personil, terkadang satu orang harus membawakan lebih dari satu jenis tarian. Dan semua itu harus dikuasai dalam waktu yang cukup singkat. Sebagian kostum yang mereka kenakan juga merupakan hasil swadaya. Pendeknya, meskipun jauh dari tanah air, kecintaan mereka terhadap budaya Indonesia tidak pernah luntur.

Dubes Indonesia untuk Oman, Musthofa Taufik Abdul Latif menyatakan, “Kehadiran Indonesia pada festival ini juga dimaksudkan untuk membuat negeri kita semakin dikenal oleh masyarakat Oman. Sampai lima tahun lalu, mungkin masih banyak warga Oman yang belum mengetahui tentang Indonesia. Namun dalam 4 tahun terakhir, jumlah wisatawan dari negeri penghasil minyak ini meningkat drastis hingga mencapai rata-rata 54% per tahun.”

Salah satu faktor yang mendorong peningkatan ini adalah peran diaspora Indonesia di Oman yang rajin mempromosikan Indonesia kepada masyarakat setempat serta mendukung kegiatan-kegiatan promosi oleh Kedutaan Besar Indonesia, termasuk pada Muscat Festival.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here