The Way I Used To Be, Memahami Kepiluan Seorang Korban Pemerkosaan

0
492
Foto: Hanajime Gandis

Penulis                         : Amber Smith

Penerjemah                  : Orinthia Lee

Penerbit                       : Spring

Tahun terbit                 : September, 2017

Jumlah halaman           : 392

Harga                          : 89.500,-

Eden adalah anak yang baik. Masa SMA sama sekali tidak mengubahnya. Namun, malam saat dia diperkosa oleh sahabat kakaknya telah mengubah segalanya.

Kehidupan yang tadinya sederhana, menjadi sangat rumit. Apa yang tadinya dia sukai, kini dia benci. Apa yang tadinya dia pikir benar, ternyata adalah sebuah kebohongan besar. Tidak ada yang masuk akal lagi.

Eden tahu dia harus memberitahu seseorang, tapi dia tidak bisa. Dia malah mengubur rahasia itu dalam-dalam. Namun, saat ada orang yang benar-benar peduli padanya, akankah dia tetap menguburnya?

-000-

Blurb di atas sudah cukup menjelaskan permasalahan yang disajikan dalam novel ini. Menggunakan sudut pandang orang pertama—aku, Eden bertutur dengan penuh apa adanya, jauh dari kata drama, tapi berhasil membuat pembaca merasakan kesedihan dan rasa jijiknya terhadap pelaku.

… Dia sedang menyesap jus jeruk dari gelasku—bibirnya menempel pada gelas yang mungkin akan kugunakan suatu hari nanti. Menempel pada garpu yang akan segera tak bisa dibedakan dari garpu-garpu lain. Sidik jarinya tidak hanya melekat pada setiap senti tubuhku, tapi semua tempat: rumah ini, hidupku, dunia ini—terinfeksi oleh keberadaannya (hlm. 12). Dan, kalimat ini sukses membuatku ikut merasakan betapa tidak bermoralnya penjahat asusila, apalagi pelakunya adalah orang terdekat korban, yang parahnya mendapatkan kepercayaan tersendiri.

Setidaknya, ada dua faktor utama kenapa Eden bungkam tentang pemerkosaan malam itu yakni ancaman dan keluarga. Pelaku mengancam akan membunuhnya kalau sampai buka mulut, sementara keluarga Eden mempunyai hal-hal yang seharusnya diperbaiki agar gadis itu bisa leluasa bercerita. Mereka menganggap semuanya berjalan normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, terlebih lagi menganggap puterinya masih anak-anak, sehingga hal krusial semacam itu tidak mungkin terjadi. Eden juga sering merasa tersisih jika dibandingkan dengan kakaknya yang berprestasi atau katakanlah dia tidak mendapat atensi yang sama. Terakhir, mereka juga kurang mempunyai waktu bersama, sehingga kesempatan itu hilang begitu saja.

Latar tempat novel ini di Amerika. Misalkan saja kasus ini terjadi pada Eden di Indonesia, menurutku dia akan tetap bungkam. Selain karena dua faktor di atas, yang paling mencolok adalah selama korban tidak mempunyai orang yang tepat untuk dimintai tolong, dia akan memilih untuk diam. Hal ini terjadi lantaran pandangan umum tentang pemerkosaan merupakan sesuatu yang sangat memalukan, padahal korban sangat memerlukan dukungan moril alih-alih disalahkan. Perempuan kerap kali dituding sebagai dalangnya, padahal laki-laki pun memiliki andil.

Eden yang malang pada akhirnya berubah menjadi bukan dirinya. Dia tidak lagi manis dan polos, tapi menjadi liar dan menakutkan. Dia melakukan itu semua demi untuk menguatkan diri yang sebenarnya begitu rapuh. Perubahan ini membuatku jengkel, karena dia memilih jalan yang benar-benar salah. Namun, semakin cerita bergulir, aku bisa bersimpati padanya. Berada di situasi Eden memang tidak mudah, apalagi teman-temannya mengatainya jalang dan sebagainya. Padahal, mereka sama sekali tidak tahu apa-apa. Menjadi pribadi yang tidak peduli sama sekali pada pandangan orang lain adalah pemikiran Eden yang justru membuatku mengasihaninya.

Ketika membaca novel ini, aku sempat merasa bosan dan menghentikan membaca selama beberapa hari. Namun, pada bagian konflik Eden dan tiga temannya, aku bersemangat kembali, karena hal itu yang memicu dia untuk mengatakan semuanya ke polisi, didampingi dengan kakaknya. Entahlah, aku begitu bangga pada Eden, karena dia akhirnya berani.

Orang-orang seperti teman kakak Eden memang harus diberi hukuman dengan tegas, agar tidak ada korban lain, karena merasa dirinya bebas.

Tidak ada segi kepenulisan yang bisa aku kritisi, karena aku begitu tertarik pada tema dan kisah di novel ini. Namun, aku menyayangkan ending-nya. Secara teori menulis, ending seperti itu memang bagus, tapi lantaran terbawa emosi pada pelaku, aku ingin penulis lebih memaparkan hukuman yang diterima dan mengeksplor kepuasan Eden. Dia sudah begitu menderita selama bertahun-tahun.

But, overall the story is good dan aku memberi empat bintang untuk setiap melankoli yang ada di novel ini. Pun pembelajaran yang sangat berharga bagi para orangtua, terutama jangan terlalu percaya dan memberi kebebasan pada orang lain di rumah, dan kita pada umumnya untuk lebih memahami bahwa trauma korban pemerkosaan begitu menyakitkan dan bantuan moril sangat dibutuhkannya.

Aku sangat mengapresiasi Amber Smith, karena sudah menulis novel ini. Dia dengan jelas menunjukkan simpatinya pada Eden dan korban lainnya yang belum terekspos. Bahkan, di bagian akhir buku, dia menambahkan bagaimana cara gratis, rahasia, dan aman bagi korban untuk mendapatkan bantuan. SALUTE!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here