Tidak Semua Perempuan Mau Jadi Janda

0
75
pixabay

Yang namanya janda, memang seringkali diberi stigma negatif oleh masyarakat kita. Dan dalam hal ini, perempuan yang berstatus janda, karena sebab apapun. Entah janda cerai mati (yang suaminya meninggal dunia), maupun janda cerai hidup (yang berpisah karena keadaan, entah karena ada orang ketiga, atau masalah apapun yang menyebabkan mereka bercerai). Padahal, tak semua perempuan, berharap untuk bisa menjadi janda. Yang namanya menikah, pastilah maunya pernikahan itu awet dan langgeng, tanpa harus ada embel-embel kata cerai di tengah jalan, yang seringkali berimbas pada masalah psikis, baik si pelaku maupun anak-anak pelaku perceraian.

Sayangnya, empati antar perempuan di masyarakat kita, juga kurang, saat ada sangkut pautnya dengan status janda. Perempuan di masyarakat kita, cenderung ketakutan, serta menjauh, saat ada perempuan lain yang berstatus sebagai janda, berada di dekatnya. Hal ini berkaitan dengan alasan, bahwa mereka tak ingin rumah tangganya rusak, karena si janda ini mengganggu suaminya. Atau dengan kata lain, janda diidentifikasikan sama dengan perempuan yang suka menjadi ‘pelakor.’ Sesuatu yang konyol sebenarnya, karena meskipun ada yang demikian, tapi banyak pula yang tidak begitu. Bagi sebagian besar perempuan, kegagalan sebuah pernikahan, merupakan luka yang teramat dalam. Sehingga jangankan untuk mengganggu rumah tangga orang lain, memikirkan untuk bisa berumah tangga lagi-pun, seringkali mereka enggan.

Belum lagi jika janda ini mempunyai anak yang dirawatnya. Stempel yang tak perlu seperti:

“ Itu lo, si fulan, anaknya fulan yang janda itu lo…”

Seringkali terdengar di telinga banyak orang dengan mudahnya. Padahal, hal tersebut tidak perlu dilakukan, jika kita bicara tentang etika. Atau jika si anak kebetulan melakukan kenakalan-kenakalan yang sebenarnya wajar dilakukan oleh bocah seusianya, bukan tidak mungkin pasti ada justifikasi lainnya yang tak kalah menyakitkan di telinga, seperti kalimat seperti:

” Iyalah, pantes anaknya nakal, gak ada bapaknya yang bisa ngajarin.”

Hal-hal semacam itu, sepertinya merata, didapatkan oleh para janda di mana saja di masyarakat kita. Empati sederhana dengan tidak membawa stempel atau embel-embel janda dalam setiap kalimat atau cibiran, seolah begitu sulit dilakukan. Meski hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan.

Menjalani hidup sebagai janda, bukanlah sesuatu yang mudah. Dibutuhkan ketangguhan hati seorang perempuan untuk bisa menjalaninya. Karena bukan hanya menjalankan peran ganda sebagai ibu, serta juga kepala rumah tangga, tapi juga harus bisa jadi bumper, benteng bagi anak-anaknya serta dirinya sendiri, saat stigma-stigma negatif dari masyarakat mulai mengusik. Sementara dia sendiri seringkali tak mampu berkeluh atau sekedar curhat kepada siapapun.

Itulah sebabnya, kita sebagai sesama perempuan, sebaiknya mulai membuka hati untuk para perempuan, para ibu yang berstatus janda ini. Berada sebagai kawan, bukan sebagai hakim, karena sudah selayaknya, yang namanya perempuan, berdiri berdampingan, untuk saling menguatkan.



site stats


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here