Tips Tahan Godaan Punya Teman Doyan Belanja

0
109
pixabay

Akhir-akhir ini saya sedang tekanan batin. Bukan yang bagaimana bagaimana, tapi menahan hasrat alamiah perempuan yaitu belanja.

Sudah sebulan ini saya mengenal dua teman baru yang sama-sama menggemari boyband asal Korea, Best Absolute Perfect, atau biasa disebut B.A.P. Mereka—sebut saja X dan Y ternyata lebih fanatik dari saya. Apa-apa berkenaan dengan idola mereka beli. Padahal, saya menyukai B.A.P jauh sebelum mereka, sejak grup penyanyi naungan TS Entertainment ini pertama kali muncul tujuh tahun silam. Hal tersebut lantas membuat saya mempertanyakan loyalitas saya sebagai seorang penggemar.

Menurut saya pribadi, stuff yang setidaknya dibeli seorang penggemar adalah CD untuk mendukung idola memenangkan sebuah penghargaan. Prinsip saya ini bertahan sebelum mengenal X dan Y. Pasalnya, ketika saya melihat official merchandise yang mereka beli langsung dari TS, saya jadi tergiur untuk membelinya juga! Saya pun mengecek saldo rekening dan oh syukurlah masih cukup.

Niatan saya untuk membeli kandas begitu saja setelah melihat-lihat lagi harganya. Mahal juga ternyata. Semisal saya belikan buku, yang juga menjadi hobi saya membaca, pasti dapat belasan atau bahkan mendekati puluhan. Sudah begitu kalau bosan bisa dan lebih mudah dijual. Hitung-hitung sedikit balik modal. Kalau official merchandise? Tidak banyak orang membutuhkan. Toh, itu hanya sekadar pajangan dengan iming-iming wajah (ganteng) personil B.A.P.

Pertanyaan berlanjut. Untuk apa itu semua? Apa fungsinya? Kalau memuaskan hasrat seorang fangirl, saya tidak yakin akan menaruh minat sebesar sekarang setelah bertahun-tahun kemudian. Lebih menakutkan lagi, barang-barang itu mungkin akan diletakkan di gudang. Sungguh sayang uang yang telah dikeluarkan. Sia-sia lantaran terlalu menggilai sesuatu.

Alhasil, saya putar otak agar tetap memiliki stuff bernuansa B.A.P. Tidak harus official juga, tapi memesan secara khusus ke produk-produk lokal. Selain dari perbedaan harga yang sangat signifikan, pilihan barangnya lebih berdaya guna, seperti notebook dan kaus.

Keputusan saya tersebut semakin ditunjang dengan sebuah kesadaran bahwa personil B.A.P sama seperti saya, manusia. Oleh karena itu, saya tidak seharusnya berlebihan dalam “memuja,” apalagi harus memaksakan diri. Mereka pada dasarnya adalah penyanyi, jadi yang harus saya tekankan di sini adalah karya mereka.

Sama seperti hubungan dalam sebuah rumah tangga, loyalitas berarti kesetiaan sampai akhir. Tidak meninggalkan satu sama lain. Saya hanya bisa berharap meski tidak terlalu ngoyo dalam “memuja” idola, saya akan tetap menyukainya sampai nanti, seperti saya menyukainya ketika belum banyak orang melakukan hal sama. Tidak kalah penting, mempraktikkan hal positif dari mereka. Sebagai contoh, leader B.A.P mencat hitam beberapa kukunya untuk mengikuti gerakan kesejahteraan anak, “Polished Man.”

Kembali pada tajuk tulisan ini, bagaimana sih tips tahan godaan agar tidak ikut-ikutan belanja? Pertama, selain kepuasan pribadi, coba pikirkan dampak setelahnya. Entah dari segi budget atau penggunaan jangka panjang. Kedua, bangkitkan logika kita. Jangan sampai keinginan sesaat membuat uang terbuang sia-sia. Ketiga, kalau mau lebih “patuh,” targetkan nominal sekian-sekian yang harus disisihkan tiap bulan. Keempat, sugesti diri sendiri akan ada kebutuhan mendesak lain. Kelima, usahakan mencari alternatif terlebih dahulu, semisal menunggu diskon atau membeli di tempat lain. Keenam, jangan minder. Dipercaya atau tidak, perempuan merasa iri pada orang lain yang bisa mengatur keuangan secara bijak.

Maksud tulisan ini bukan untuk mempengaruhi pembaca mengurungkan apa yang ingin dibeli. Namun, dikhususkan bagi mereka yang bimbang seperti saya. Lagi pula, prinsip keuangan orang berbeda-beda, jadi tips di atas tidak selalu benar.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here