Skip to main content
Categories
BudayaGaya Hidup

Valentine, Boleh Haramkan Tapi Jangan Sirik pada yang Pilih Merayakan

Seperti biasa, jika sudah dekat-dekat 14 Februari, lini masa saya akan dipenuhi oleh berita dan status terkait keharaman hari valentine. Namanya juga berasal dari agama dan akar budaya berbeda. Wajarlah kalau ada larangan untuk ikut-ikutan merayakan.

Tapi terus terang saya gemas sekali kalau dalam kampanye “Valentine Haram” ini pakai ditambahkan kalimat seperti “Mereka kan cuma mau freesex, cuma mau nidurin kamu. Jangan mau ikut dibodohi rayuan iblis.”

Emak-emak dan mbak-mbak nih biasanya yang ngomong begini. Kebiasaan deh, asal nyeblak tanpa dipikir dulu.

Berdasarkan sejarahnya, seperti dikutip dari web katolik katolisitas.org , sejarah hari Valentine adalah peringatan akan sosok orang kudus bernama St. Valentine dari Roma yang hidup pada sekitar abad ketiga masehi. Dikisahkan, St. Valentine ini semasa hidupnya sebagai imam telah banyak menikahkan pasangan muda- mudi. Menikahkan orang pada saat itu adalah perbuatan melanggar perintah Kaisar Claudius di Roma, yang pada waktu itu melarang kaum pemuda untuk menikah dengan alasan mereka yang menikah akan terikat pada keluarga dan tidak dapat menjadi serdadu kerajaan yang baik. St. Valentine tidak mengindahkan larangan tersebut, dan meluluskan permohonan para muda- mudi yang ingin menikah, hingga akhirnya dia ditangkap dan akhirnya dibunuh.

Bagi orang Katolik (dan Kristen) pada umumnya, peringatan ini punya makna mendalam. Bagaimana cinta memang adalah sesuatu yang patut dirayakan dan diperjuangkan. Tapi yang perlu menjadi catatan, hari valentine ini sama sekali BUKAN PERINGATAN HARI RAYA KEAGAMAAN seperti halnya Natal atau Paskah. Ini lebih kepada perayaan tradisi.

Kalau di kemudian hari ternyata banyak oknum yang kebablasan merayakannya dengan melibatkan sex bebas, ya salahkan oknumnya dong. Jangan perayaannya. Apalagi sampai mengaitkan dengan agamanya. Untuk yang mungkin belum tahu, ajaran nasrani juga sangat, sangat tegas melarang yang namanya sex pranikah.

Mengharamkan valentine lantaran berbeda keyakinan masih bisa saya terima. Tapi mengharamkan valentine dengan alasan free-sex-nya itu adalah pemikiran yang keliru, saya rasa. Sama saja seperti mengharamkan 17 Agustusan ketika mengetahui ada yang ketangkap berbuat mesum saat panggung dangdut malam harinya.

Berbicara sex bebas, ya tidak perlu lah menunggu valentine. Data KPAI dan Kemenkes menyebutkan, sekitar 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah. Memangnya sebanyak itu pelakunya kompak melakukan di hari valentine saja? Kalau memang sudah berniat, di kamar kosan atau di kebun pisang kapan saja juga kejadian kok.

Tugas kita untuk selalu mengingatkan sanak saudara dan kerabat kita tentang risiko sex bebas, untuk selalu menjaga diri dan kehormatannya, termasuk soal risiko Penyakit Menular Seksual (PMS) yang mengancam lewat perilaku sex tidak aman.

Tapi kalau kamu sirik pas ada tetangga yang nyiapin cokelat untuk tukar kado sama teman di gerejanya, atau ngata-ngatain temanmu yang kebetulan dikasih bunga dan boneka pink sama pacarnya pas valentine … yah, mungkin sebetulnya kamu cuma pengen dikasih kado juga kali. Hayo ngakuuu!

😀 😀 😀


Web kolaboratif, konten adalah tanggung jawab penulis (Redaksi)

Subscribe our newsletter?

Join Newsletter atau Hubungi Kami: [email protected]

Inspirasi
BelanjaKarirKecantikanKehidupanKeluargaIndeks
Let's be friends