Catatan Najwa Goes Hong Kong: Berbagi Inspirasi Bersama Perempuan Migran

2
690
Foto: dok. Arista Devi

Jika setiap orang bisa memilih dengan leluasa
Tak ada yang mau hidup terpisah dari keluarga
Merantau ke negeri yang begitu jauh
Mengadu nasib dan masa depan yang mungkin saja keruh

Hidup memang kerap tak memberi banyak pilihan
Demi keluarga bila perlu menyeberangi lautan
Memeras peluh merintis usaha selagi bisa
Merajut karya hingga mengelucak ini tenaga

Toh, tanah air tak pernah pudar dari ingatan
Tumpah darah tak pernah sekedar jadi kenangan
Siapa tau bisa memberi sesuatu bagi bangsa
Walau hanya devisa yang mungkin tak seberapa

Teman-temanlah pejuang tangguh yang sebenarnya
Yang enggan meminta-minta
apalagi merampok kas negara

Kepada para pekerja Indonesia di luar negeri
Kita bisa belajar makna dedikasi yang asli
Hiduplah para perantau yang tak berhenti berkarya
Indonesia hanya bisa berkibar
Karena kerja teman-teman semua

(Catatan Najwa, 19 November 2017)

Sebagian BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong yang memenuhi Sunbeam Theatre untuk menghadiri acara “Meet & Greet with Najwa Shihab” terharu ketika jurnalis senior perempuan¬†yang akrab dipanggil Nana membacakan catatannya di akhir talk show yang ditayangkan secara live di dunia digital.

Wanita kelahiran Makassar, 16 September 1977 ini telah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh buruh migran di Hong Kong sejak komunitas Mata Najwa Fans Club Hong Kong mengumumkan melalui media sosial bahwa mereka akan mengadakan acara yang bertajuk Catatan Najwa Goes To Hongkong dengan tema “Karya Untuk Bangsa”.

Pada acara yang sengaja digelar pada hari Minggu (19/11) yang menjadi hari libur mayoritas pekerja migran di Hong Kong tersebut, Nana dan Ibu Martha Tilaar berbagi kisah inspiratif seputar kehidupan mereka sebagai perempuan, seorang istri, seorang ibu sekaligus sebagai perempuan pekerja kepada audiens yang sebagian besar adalah para perempuan migran.

Dalam perbincangan yang terbagi menjadi dua sesi, Nana dan Ibu Martha selain berbagi inspirasi sebagai dua sosok tokoh perempuan Indonesia, juga berbagi cerita personal mereka yang pernah menjadi titik balik dalam kehidupannya.

Dengan ekpresi terharu Kak Nana mengaku pernah mengalami masa paling buruk dalam hidupnya, yakni ketika ia kehilangan bayi perempuannya yang bernama Namia. Saat itu dia merasa sudah berusaha keras memperjuangkan dan mempertahankan apa yang diidamkannya; seorang anak perempuan. Tapi ternyata kenyataan berbicara lain.

“Awalnya saya marah kepada diri sendiri, kepada Tuhan, karena sudah banyak nazar untuk mempertahankan Namia. Tapi akhirnya saya bisa mengambil pelajaran, bahwa usaha semaksimal apapun yang kita lakukan, pasti Allah menentukan yang terbaik. Bahkan ketika kita tahu itu yang terbaik tetap saja itu tidak mudah. Ikhlas memang tidak mudah, butuh belajar.”

Kak Nana mengatakan titik paling buruk dalam hidupnyalah yang kemudian mengubahnya dari seorang Nana yang ‘ngototan’ dan harus selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, menjadi Nana yang lebih dewasa dan bisa menerima kehilangan serta menyadari bahwa: seberapapun usaha maksimal manusia, hasil tetap ditentukan oleh Tuhan.

Sebagai perempuan, Ibu Martha mengatakan titik terburuk dalam hidupnya adalah ketika ia divonis dokter tidak bisa mengandung dan memiliki anak. Sebagai istri, beliau merasa putus asa dan sempat berpikir untuk melepaskan suaminya agar mencari perempuan lain. Tapi pada akhirnya atas dukungan penuh suami dan keluarganya, usaha, doa dan pasrah kepada Tuhan, pada akhirnya Ibu Martha bisa mengandung dan melahirkan 4 anak meski sudah di usia lanjut.

Acara yang bernuansa merah putih itu berlangsung cukup meriah dan sangat inspiratif. Kepada Peran Perempuan, beberapa audiens mengaku melalui acara tersebut, mereka menjadi bisa lebih mengenal dari dekat sosok idolanya sekaligus terlibat secara emosional dengan cerita personal yang dibagikan oleh narasumber secara langsung.

“Saya tidak menyangka orang sehebat Kak Nana dan Ibu Martha pernah sampai pada titik terburuk dalam hidup yang kebetulan hampir sama dengan yang sedang saya alami saat ini. Jadi secara pribadi saya merasa terinspirasi dan termotivasi agar bisa bangkit, berjuang dan tidak berhenti bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik lagi,” Sutini, perempuan migran asal Kediri menuturkan kesannya sambil menghapus air mata dan tersenyum.

Baca juga : Catatan Pertemuan dengan Najwa Shihab Sebagai Perempuan Biasa



Web Analytics


2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here