Catatan Pertemuan dengan Najwa Shihab Sebagai Perempuan Biasa

2
347
Najwa Shihab. Foto: dok. Arista Devi

Cuaca mendung di musim dingin seakan tak mampu menghapus keceriaan ratusan wajah Buruh Migran Indonesia (BMI) yang berada di Sunbeam Theatre, North Point. Pada hari Minggu (19/11) itu mereka berkesempatan untuk bertemu idola sekaligus menghadiri acara “Catatan Najwa Goes Hong Kong” yang diadakan oleh komunitas Mata Najwa Fans Club HK.

Menurut ketua panitia acara, Eka Septi, ketika acara diumumkan untuk pertama kalinya, secara tidak diduga mereka berhasil mendapatkan 1800 orang pendaftar hanya dalam waktu 12 jam! Tapi berhubung ruangan tempat berlangsungnya acara hanya berkapasitas seribu orang, pihak panitia terpaksa mengeliminasi sebagian peserta, termasuk saya. Sebagaimana pendaftar lainya yang ditolak, saya sempat merasa kecewa. Tapi ternyata Dewi Fortuna masih menyapa saya, pada sesi pendaftaran khusus nasabah BNI Remmitance saya berhasil mendapatkan satu tiket VIP sekaligus undangan wawancara dengan Mbak Nana mewakili Peran Perempuan.

Sosok Najwa Shihab sebagai seorang jurnalis sekaligus presenter talkshow tentunya sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Dari berbagai penghargaan yang diterimanya, profesionalisme perempuan yang akrab dipanggil Nana ini tidak hanya diakui di dalam negeri tapi manca negara pun sudah mengakuinya sebagai sosok jurnalis hebat.

Setelah sekian lama hanya bisa menyimak kiprah Mbak Nana melalui TV, YouTube dan berbagai media digital lainnya, akhirnya saya bisa menyaksikan secara langsung bagaimana penampilan Mbak Nana di atas panggung. Dan pertemuan dengannya seusai acara membuat saya semakin terkesan dengan aura positif yang dimilikinya. Perempuan yang menjadi Duta Baca Indonesia periode 2016-2020 sekaligus Duta Pustaka Bergerak itu sederhana dan ramah, bersahabat layaknya sebuah buku inspiratif yang siap dibaca siapa saja.

Bersama dua orang teman sesama kontributor media, saya berkesempatan mewawancarai Mbak Nana. Sosok Mbak Nana sebagai orang terkenal sudah bukan rahasia lagi, bisa diakses di berbagai media cetak dan daring. Maka pada kesempatan yang langka tersebut saya mencoba mengulik sisi lain Mbak Nana sebagai sosok perempuan biasa.

Najwa Shihab. Foto: dok. Arista Devi

Kami dari Peran Perempuan lebih tertarik kepada Mbak Nana sebagai seorang perempuan dengan fungsi ganda, sebagai ibu sekaligus perempuan pekerja. Bagaimana cara Mbak Nana menjaga kedekatan dengan keluarga (suami dan anak) di antara kesibukan bekerja?

Najwa Shihab: “Komunikasi. Di era digital seperti sekarang ini, saya memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menjaga komunikasi agar bisa tetap dekat dengan keluarga. Selain itu, jika ada waktu berkumpul bersama keluarga saya membiasakan diri untuk mendiskusikan segala hal, dari topik berita yang sedang hangat sampai dengan masalah pekerjaan saya. Sehingga suami dan anak saya bisa masuk, mengetahui dan terlibat serta memahami dunia pekerjaan dan kegiatan yang sedang saya jalani.”

Apakah Mbak Nana sebagai perempuan biasa sekaligus perempuan pekerja pernah mengalami masalah atau kendala?

Najwa Shihab: “Sebagai perempuan, jujur saja saya juga pernah mengalami semua dilema yang dialami oleh ibu pekerja lainnya. Perasaan bersalah karena meninggalkan anak untuk bekerja, perasaan was-was apakah sudah bisa menjadi ibu yang baik, perasaan menyesal kalau tidak bisa hadir di moment-moment di sekolah. Jadi saya mengalami semua hal yang dialami oleh ibu yang menjalankan fungsi ganda.”

Bagaimana cara Mbak Nana mengatasi dan melewati masalah tersebut? Apa bisa berbagi rahasia dan cara untuk mengatasinya kepada pembaca Peran Perempuan?

Najwa Shihab: “Pertama, support system. Untuk mengatasi dan melewati masalah saya mengandalkan dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat saya. Dan saya merasa beruntung karena memiliki support system yang kuat.

Kedua, partner. Suami bagi saya adalah partner saya dalam arti sesungguhnya. Selain bapak dari anak-anak saya, juga partner saya dalam diskusi segala hal dan kami bisa saling backup, membantu dan mendukung kesibukan masing-masing.

Ketiga, community. Jika support system dan partner tidak ada atau ada tapi tidak bisa diandalkan, maka community atau komunitas bisa menjadi penggantinya. Dengan cara membentuk dan membangun komunitas dengan orang-orang yang sedang menghadapi persoalan yang sama. Maka sesama anggota akan bisa saling bantu, berbagi, menguatkan dan saling dukung sehingga masalah seperti apapun bisa menjadi lebih mudah untuk diselesaikan.”

Lebih lanjut Mbak Nana memberikan contoh komunitas-komunitas yang diketahuinya berikut contoh kegiatan yang mereka lakukan dan menjawab beberapa pertanyaan lainnya. Andai saja panitia tidak mengingatkan agenda Mbak Nana selanjutnya sudah tiba, berbincang dan berdiskusi dengan sosok perempuan cantik yang bersikap hangat ini bisa membuat kami lupa waktu.

Baca juga: Catatan Najwa Goes Hong Kong: Berbagi Inspirasi Bersama Perempuan Migran




2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here