Cinta yang Akan Diberi Sampai Tiba Waktunya Habis

0
149
Ilustrasi/model: Lia Sibarani dengan buah hatinya. Sumber foto: dok. Lia Sibarani

Adinda Bintari
~Konselor Laktasi~

November 2019 tepat 8,5 tahun saya menyusui 3 anak secara estafet. Alanza dan Azanta tandem selama 50 bulan karena jarak usia mereka 1 tahun pas. Alanza menyusu selama 37,5 bulan, Azanta 38 bulan, dan Allewn 48 bulan. Desember ini, Allewn sudah tidak menyusu lagi, walau ASI saya masih keluar.

Menyusui hanyalah sepercik dari perjalanan panjang seorang Ibu. Namun kadangkala harus melalui ribuan drama yang melelahkan. Ada banyak sekali perempuan yang terhalang untuk dapat memberikan haknya kepada sang buah hati. Ya, bagi saya, menyusui adalah hak. Sebagaimana saya berhak memberikan cinta kepada siapapun yang saya kehendaki, maka melalui bulir-bulir ASI, di situ ada cinta yang mengalir untuk anak-anak saya.

Anda pernah jatuh cinta pada seseorang, dan berusaha ingin memberikan cinta Anda kepadanya, tapi dia menolak? Bagaimana perasaan Anda? Sakit. Begitupun perasaan putus asa seorang Ibu ketika ingin menyusui anaknya, tapi tidak bisa. Bukan karena menyusui adalah kewajiban. Sama sekali bukan. Namun karena ada cinta yang gagal diberikan. Sepatah itu hatinya.

Saya menyusui estafet 8.5 tahun, bukan tanpa halangan. Alanza lahir sebagai bayi yang gemuk dan sehat. Saya dicaci macam-macam oleh orang-orang sekitar saya ketika kemudian saya hamil Azanta, adiknya Alanza. Saya dicap tega terhadap Alanza karena masih menyusui. Mereka bilang, ASI saya basi dan dapat membahayakan Alanza. Pada saat itu, mental saya drop. Saya mengunci diri di rumah dan tidak ingin bertemu siapapun. Saya pun memecat paksa pembantu saya yang lancang bertanya, “Gak mau digugurin aja Bu? Kasihan lho kakaknya nanti kecentet”

Ketika saya drop, ASI saya menurun drastis. Alanza dibantu 2 orang Ibu Susunya selama kurang lebih 2,5 bulan. Sewaktu saya harus ke RSCM, Alanza juga pernah menyusu kepada adik kandung mertua saya, yang saat itu mempunyai bayi berusia 1 tahun.

Seiring berjalannya waktu, saya dapat menyusui Alanza kembali setelah supply ASI saya kembali normal. Dilanjut dengan tandem bersama Azanta. Dulu saya repot sekali menyusui mereka bersamaan. Satu di kanan, satu di kiri. Tapi sekarang saya rindu momen itu.

Saya pun dapat mendonorkan ASI saya pada 2 bayi lain. Yang satu ibunya meninggal, yang satunya ibunya sedang relaktasi. Jadi ASI saya bisa untuk 4 bayi sekaligus saat itu.

Mungkin saya termasuk satu dari ribuan Ibu yang kepalanya lebih keras dari batu. Saya melawan orang-orang di sekitar saya yang mencoba mempengaruhi, mendikte, dan mengintervensi keputusan saya terhadap anak-anak saya. Dari perang kata-kata hingga perang ayat. Bukan hal mudah mengubah stigma di masyarakat yang sudah berakar sejak jaman nenek moyang.

“Ahh gak papa kali bayi dikasih makan. Buktinya bayi jaman dulu sehat-sehat aja.”
“Tega amat kamu, masa selama 6 bulan gak dikasih makan apa-apa.”
“Miskin ya, gak mampu beli makanan enak?”
“Ya ampuuunnn gak takut bayinya nanti kurus??”
Dll..

Saya depresi. Namun saya dapat melihat orang-orang yang masih peduli dan mendukung keputusan saya. Bahkan menguatkan saya dari luar dan dalam. Maka, bagi kita yang memiliki sahabat yang rela memberikan waktu dan tenaganya untuk kita, jagalah mereka baik-baik.
Adalah lebih baik kita punya sahabat 1-2 orang namun benar-benar mengerti, memahami, dan menyayangi kita, ketimbang ribuan teman palsu yang sekedar kepo terhadap hidup kita.
Sahabat yang baik, tahu kapan harus merangkul dan kapan harus memecut untuk bangkit.

Kalau merasa sendirian dan tiada siapapun mengerti, cobalah mencari di forum-forum yang sesuai peruntukkannya. Di situ sebenarnya kekuatan ‘Mom to Mom’ forum. Membuat kita merasa bahwa bukan kita saja yang mengalami hal seperti ini, dan bersama mereka yang senasib, kita belajar dan mencari jalan keluar bersama.

Namun tidak semua perempuan punya akses dan fasilitas seperti demikian. Banyak yang tinggal di lingkungan yang kurang memadai, tiada dukungan, maupun akses untuk belajar.

Menyalahkan mereka karena ‘terlanjur kawin’ pun percuma. Mereka tidak akan paham soal itu. Yang paham saja, ada waktu-waktu dimana dia bisa blank dan error. Tentu kita pernah mendengar berita seorang Ibu menghabisi bayinya, padahal dia berasal dari keluarga kaya raya dan berpendidikan, bukan? Kita pasti berpikir, kurang apa dia? Lalu penghakiman dan bully-bully-an menghampirinya, tanpa pernah kita mau tahu apa sebabnya.

Waktu sekolah, kita pernah belajar mati-matian untuk ujian. Eh saat ujian, kita tegang. Akhirnya blank dan banyak jawaban yang salah. Sederhananya seperti itulah gambarannya. Sebelum menikah, mungkin kita bisa mempelajari segala hal tentang kehidupan pasca perkawinan yang akan kita jalani. Tapi belum tentu 100% kita sukses ketika praktek. Bagus kalau kegagalan demi kegagalan membuat kita semakin semangat belajar. Namun tak semua yang terjatuh, langsung bisa bangkit lagi.

Saya konselor laktasi, 90 persen dari sesi konsul adalah mendengarkan. Sepuluh persennya baru bicara/memberi advise. Itupun jika dibutuhkan. Seringkali klien-klien saya bukanlah Ibu-Ibu yang bodoh dan tidak tahu harus apa dan bagaimana. Mereka adalah para perempuan cerdas. Mereka hanya butuh didengarkan. Mereka butuh telinga dan hati yang siap menampung segala keluh kesahnya.

Adik kelas saya hampir saja memutuskan untuk bercerai karena istrinya tampak beda. Dia bilang, sebelum menikah, istrinya adalah sosok perempuan tangguh. Tapi mengapa setelah punya anak, jadi sensitif, sering mengeluh, dan marah-marah. Untungnya mereka gagal berpisah, setelah saya memberi saran agar dia mendekati istrinya, berikan hadiah kecil, ajak jalan-jalan (walau hanya ke Alpa), bantu pekerjaan rumahnya, dan pelajari soal merawat bayi.

Sekitar dua bulan yang lalu dia baru saja membeli mesin cuci dariĀ babebongkok untuk menghemat waktunya membereskan pekerjaan rumah. Dia bilang, kondisi istrinya berangsur membaik setelah dia rajin memasak, mencuci, dan menemani istrinya ngobrol tiap malam.

Saya bukan mau bilang bahwa pendidikan pranikah itu tidak penting. Bagi saya, itu sangat penting. Tapi menyiapkan mental jauh lebih penting.

Nah, persiapan mental ini, tidak bisa dalam sekejap. Harus dilatih terus menerus. Dan satu hal yang tidak kita sadari, yaitu gejolak hormon. Kondisi masih gadis dengan setelah punya anak, jauh bedanya. Suami perlu tahu waktu-waktu dimana gejolak hormon istrinya naik turun drastis. Sekarang bisa tertawa, nanti lima menit lagi bisa saja nangis.

Jangan bertanya! Pelajari sendiri! Karena istri juga sering tidak paham mengapa dirinya tiba-tiba sensitif, marah-marah sendiri, nangis di balik bantal, tapi nanti normal lagi.

Btw, mari kita berhenti membully Ibu yang kemarin ceritanya viral di twitter karena anaknya meninggal akibat penyumbatan nasi di usus. Kita tidak benar-benar tahu kondisi sebenarnya seperti apa. Saya juga sedih. Ingin marah rasanya. Tapi ketika saya baca twit yang menyatakan bahwa ibunya diam saja, di situ saya menangkap ada sesuatu yang tidak terungkap.

Kalau seorang Ibu/istri masih ngomel, marah-marah, nangis, dan sebagainya, itu pertanda normal. Mungkin hanya pengaruh hormon. Namun kalian para suami…, justru perlu waspada ketika istri kalian sudah tidak marah-marah dan nangis lagi, tapi diam saja. Tidak ada sepatah kata pun dari mulutnya. Itu pertanda tidak normal. Rasa sakit yang dialaminya, mungkin lebih parah dari yang dapat kalian rasakan. Namun… dia L E L A H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here