Karena Preeklamsia Saya Tidak Bisa Melahirkan Normal

0
25
Picture: pixabay

Selasa 11 Juli 2017 kemarin, kalau tidak ditangani dengan tepat-cepat mungkin bisa berujung fatal.

Dini hari sekitar pukul 00.30 saya terbangun karena mual, muntah tak tertahankan lagi. Dikira cuma muntah biasa, saya minum air hangat kemudian melanjutkan tidur. Namun, satu jam setelahnya saya kembali terbangun dan muntah. Berulang begitu terus setiap satu jam sekali.

Setelah muntah ketujuh kalinya, saya minta dibawa ke bidan A. Tempat praktek bidan tidak ada orang. Rumah pribadinya tidak ada yang membukakan pintu. Akhirnya, tepat ketika azan subuh saya dan suami terpaksa mendatangi bidan B.

Bidan B ini menyatakan saya sudah pembukaan 1 longgar. Bukan main bahagianya perasaan ini. Ternyata saya baik-baik saja. Saya akan segera melahirkan! Berjalan-jalan santailah saya. Latihan mengolah napas sambil menunggu sarapan dihidangkan.

Saya masih ingat betul bagaimana asinnya telur ceplok yang menjadi sarapan saya saat itu. Asin sekali tapi semua itu kalah oleh semangat melahirkan normal. Saya lahap memakan setengah porsi sampai kemudian saya muntah kembali.

Bidan meninjau kondisi saya lebih detil. Melihat kaki saya bengkak dan tensi cukup tinggi (120) barulah ia menyatakan keberatannya membantu melahirkan. Terlalu beresiko, katanya. Saya diminta melakukan tes urin.

Tes menunjukkan adanya protein (+3) dalam urin. Dibawalah saya ke rumah sakit.

Sungguh, di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit pun saya masih berpikir positif dapat melahirkan normal. Saya masih bisa bercanda di sela-sela kram perut yang menyayat. Hingga kemudian saya masuk IGD dan dokter menyatakan saya harus segera dioperasi. Positif preeklamsia dan air ketuban tinggal sedikit.

Sampai di situ, jangan ditanya betapa hancurnya hati ini. Saya merasa gagal. Namun, ternyata operasi itu adalah salah satu cara Allah memberi kesempatan kedua.

Melahirkan normal terlalu beresiko untuk positif preeklamsia. Setelah melahirkan saya bisa saja terserang eklamsia, suatu kondisi lebih gawat.

Benar saja, sudah operasi pun tensi saya masih berada di angka 180/10. Dokter memasukkan saya ke ICU. Dua hari satu malam saya sendirian dan hanya dipantau oleh perawat. Tidak boleh ada yang menunggu. Saya harus istirahat total. Tensi harus segera turun.

Akan selalu saya ingat perasaan malam itu. Bermalam seorang diri di ruang rumah sakit ditambah tidak ada teman pasien sekamar, kesadaran yang buram akibat tensi tinggi dan pengaruh obat bius, lebih-lebih sedih karena belum boleh bertemu anak. Unforgetable.

Semua itu menjadi ringan ketika sesudahnya rasa nyeri di jahitan hilang dalam semalam. Keceriaan lebih kentara ketika teman-teman dan keluarga datang menjenguk. Dan puncak dari semua itu adalah, akhirnya saya bertemu bayi saya! Semangat muncul kembali. Saya menganggap ini adalah kehidupan kedua. Kehidupan baru. Kehidupan penuh harapan.

At least, pesan dari catatan panjang ini adalah: ayo bersyukur. Allah Ar-rahim. Allah Maha Penyelamat. Sesuatu bisa saja bukan sesuai kemauanmu tapi Allah hanya tidak ingin kamu terluka lebih lagi.

Tidak kalah penting, selama kehamilan tolong jangan mudah percaya mitos ‘bawaan’. Apa yang terjadi pada tubuh kita tentu ada sebabnya. Kaki bengkak bukan sekadar ‘bawaan’. Rajin check up belum cukup. Jalani setiap tes yang diperlukan untuk mengetahui kondisi kehamilan karena andai saja dulu saya tahu harus tes urin, pastilah saya bisa mencegah tiap kemungkinan buruk.

Preeklamsia sendiri adalah komplikasi kehamilan. Belum diketahui pasti penyebabnya, diagnosis sementara preeklamsia terjadi karena kelainan plasenta  (ari-ari) pun ditandai dengan tekanan darah yang terus meningkat selama kehamilan, penglihatan buram dan adanya protein dalam urin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here